Yosi Project Pop Ungkap Penyebab Lansia Sering Termakan Informasi Hoax

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Informasi hoax sampai saat ini masih sering kali tersebar luas karena para penyebar semakin pintar dalam memanfaatkan situasi. Literasi digital pun terus digalakkan agar masyarakat bisa terhindar dari informasi-informasi menyesatkan yang justru akan membuat situasi semakin tidak kondusif.

Sayangnya, kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) sering kali termakan berita hoax karena literasi digital yang belum maksimal. Inilah yang kemudian mendorong Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) bersama Google.org menginisiasi lahirnya Tular Nalar, untuk meningkatkan kemampuan literasi digital lansia.

Yosi Mokalu, Ketua Siberkreasi, mengatakan saat ini hampir 10 persen dari total penduduk Indonesia masuk kategori lansia. Namun belum diketahui berapa banyak yang melek digital karena bahkan hingga kini masih ada yang buta huruf dengan posisi ekonomi menengah ke bawah.

“Melihat situasi ini, memang ada pekerjaan rumah besar karena di satu sisi pemerintah sedang mendorong digitalisasi di banyak aspek namun masih ada persoalan yang dihadapi, jaringan internet belum merata, kemudian juga buta huruf dan kemiskinan,” ungkap Yosi dalam perkenalan daring Tular Nalar, Senin (07/02/2022).

Saat ini menurut Yosi, yang terjadi adalah adanya gap antara anak muda dengan orangtua. Namun menurut dia, ada keseimbangan yang bisa diciptakan di keluarga, untuk membangun ekosistem digital sehat.

“Ada nilai-nilai dari orangtua yang bisa menjaga anak muda berselancar digital. Di sisi lain, yang muda mengajarkan bagaimana berdigital, dan sebaliknya bagaimana yang tua mengajarkan nilai-nilai pada anak muda. Program ini harapannya menjadikan lansia terliterasi dan menjadi agen perubahan untuk menjaga suasana digital di keluarga masing-masing. Keluarga bisa berperan, bukan hanya orangtua tapi di sisi lain anak juga,” ungkapnya lagi.

Saat ini penyebar hoax dirasa semakin pintar dalam memanfaatkan situasi menggunakan platform-platform online. Hal ini pula yang membuat informasi hoax berjalan cepat dan masif tersebar di masyarakat.

“Misalnya, lansia banyak yang tertipu vaksin, antre panjang tapi ternyata informasinya hoax. Pelaku hoax ini tinggal meminjam situasi, kesehatan ambil vaksin, banjir tinggal ambil foto lama sehingga orang mudah percaya hoax karena situasi. Kita bisa ajarkan, kalau ada sesuatu yang mencemaskan dan bebarengan ada info-info mencurigakan maka kita harus lebih kritis menyikapi dan kroscek,” tandas dia.

Santi Indra Astuti, Program Manajer Tular Nalar mengatakan pihaknya membuat program untuk melengkapi tools pembelajaran literasi digital bisa diterima dengan menyenangkan. Tular Nalar membangun website, video kurikulum, online course juga kelas webinar guru dan pelatihan relawan Tular Nalar di seluruh Indonesia.

“Kami menyasar lansia dan pra lansia, bagaimana kita berangkat dari keluarga sebagai perangkul yang juga melindungi. Akan ada muatan edukasi khas seperti lewat video, modul panduan untuk teman-teman yang bisa merangkul warga lansia. Kami tetapkan 25 kota sasaran sebagai awal, mulai barat sampai timur. Keluarga tangguh digital harus dibangun semuanya,” terang Santi.

Lansia menurut Santi kerap termakan informasi hoax karena adanya kekhawatiran menjaga keluarga. “Di sini peran kita yang lebih muda untuk melakukan literasi digital, yang tentu saja bisa dipahami dengan mudah,” lanjutnya.

Sementara, Koordinator Literasi Digital Kementrian Kominfo, Rizki Ameliah, yang ikut hadir secara daring membenarkan saat ini masyarakat paling banyak terkena hoax termakt isu kesehatan. Media sosial dan Whatsapp grup menjadi platform penyumbang terbesar beredarnya berita hoax di masyarakat.

“Kominfo, terus berusaha untuk meminimalisir, termasuk fokus melakukan literasi digital pada lansia. Tentu pemerintah sangat senang karena semakin banyak dari kita membantu menangkal berita hoax dan melakukan edukasi digital pada masyarakat. Kami sangat mengapresiasi Tular Nalar dan harapannya jadi gerakan masif di Indonesia,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI