Yuk Kenali dan Bahaya Self Injury

YOGYA, KRJOGJA.com – Self injury atau melukai diri sendiri seringkali dilakukakan seseorang demi mendapatkan kepuasan batin. Menyakiti diri itu biasanya dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari memukul-mukul diri sendiri, menggigit bagian tubuh, hingga menyayatnya menggunakan senjata tajam.

Salah satu dokter umum Klinik Eco Medica, Dr. Teuku Rezki Amriza mengatakan, self injury sangatlah berbahaya. Terlebih jika seseorang sudah sampai tahap melukai diri dengan menorehkan senjata tajam dibagian tubuhnya. Menurutnya, luka yang diakibatkan itu akan mengundang bakteri dan kuman masuk ke dalam tubuh sehingga bakal memperparah keadaan.  

“Alat yang digunakan untuk melukai diri sendiri itu pasti tidak higienis. Benda apa saja yang ia temui atau dilihat dapat digunakan untuk melukai dirinya. Bila bakteri dan kuman yang ada di cutter atau pisau masuk ke tubuhnya tentu sangat berbahaya. Apalagi kalau luka yang timbul itu tidak dirawat, bisa memperparah kondisi pasien,” jelas Dr. Teuku Rezki Amriza, kepada KRjogja.com beberapa waktu lalu.

Dr. Teuku Rezki Amriza menambahkan, kasus self injury yang sampai menyayat diri sendiri biasanya dilakukan akibat depresi yang berkepanjangan. Mereka memiliki masalah yang dirasa cukup pelik namun belum mampu menyelesaikannya. Alhasil, orang tersebut pun akan mencari sebuah pelampiasan untuk meringankan derita yang diterimanya.

“Pelaku ini seperti berusaha bunuh diri namun dengan cara perlahan,” imbuhnya..

Psikolog Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Sadewa, Ratnasari Kusumajati, M. Psi menjelaskan, orang yang melakukan self injury pada dasarnya memiliki tingkat perhatian yang cukup rendah, Kurangnya perhatian yang diterimanya itu lah yang kemudian membuat orang tersebut merasa sendiri dan kesepian.

“Mereka juga kurang mampu menyelesaikan masalah dengan baik, kemudian mereka memilih langkah pelampiasan. Melukai diri sendiri mereka anggap sebagai jalan yang paling tepat dan membuat mereka terpuaskan,” tuturnya.

Menurut Ratnasari, peran orang tua sangat besar dalam upaya menghentikan kebiasaan self injury. Ketika itu terjadi pada sang anak, orang tua harus mampu menjadi penengah dan tempat cerita bagi anak. Alhasil dengan begitu mereka akan terbuka dengan permasalahan yang dihadapi dan menjauhi kebiasaan self injury.

“Pendekatan lagi kepada si anak, sehingga anak merasa nyaman untuk menyampaikan apapun yang ia rasakan dan apapun yang ingin mereka sampaikan tanpa ada judgement dari orang tua,” pungkasnya. (MG-10)

BERITA REKOMENDASI