Zubaidi Gemetar Ketemu Jokowi

ZUBAIDI (65) menjadi buah bibir beberapa hari ini lantaran sikapnya yang memilih mengembalikan uang Rp 20 juta ke pemilik hasil penemuannya ketika sedang memungut sampah.  Pemberitaan di media yang masif terdengar sampai pihak Istana. Ia pun diajak oleh tim Presiden Joko Widodo untuk turut hadir dalam acara buka puasa bersama di kawasan elit Kuningan, Jakarta.

BACA JUGA :

Temukan Tas Berisi Rp 20 Juta, Tukang Sampah Kembalikan ke Pemiliknya

Sepulangnya dari ibukota, Zubaidi tetap kembali ke indekosnya di Jalan Gambiran No 14 RT 20 RW 15, Umbulharjo, Yogyakarta. Di kamar seukuran 4 x 3 meter dengan kayu-kayu berwarna hijau sebagai pembatas itu, Zubaidi tinggal bersama dengan beberapa tetangganya. "Saya agak batuk juga ini setelah dari Jakarta," bukanya ramah ketika dijumpai KRJogja.com, Rabu (06/06/2018) di indekosnya. 

Zubaidi tampil santai, hanya mengenakan celana pendek dan baju batik kesehariannya, meski pemberitaan tentang dirinya yang mengembalikan uang Rp 20 juta ke sang pemilik cukup masif beredar di media. Sesekali ia tampak mengutak-utik hape Nokia monokrom yang setia menemaninya sejak beberapa tahun lalu.

"Sebenarnya saya enggak nyangka dan gemetar pula ketemu Pak Jokowi. Saya ini siapa, tidak pernah tidur di hotel mewah, untuk buka kunci kamar hotel saja susah. Naik pesawat juga tidak pernah. Tiba-tiba, ada orang hubungi saya, nanya saya siap enggak diajak ke Jakarta ketemu Pak Jokowi," ucap Zubaidi dengan mata berbinar. 

Acapkali, ia merasa pengalamannya bertemu dan menjabat tangan Presiden Republik Indonesia (RI) layaknya mimpi. Apalagi dikelilingi orang-orang penting yang ia tidak pernah ketemu seumur hidupnya.

"Saya enggak tahu juga siapa mereka, tapi sepertinya orang penting ya. Saya gemetar sekali saat itu sudah tidak kepikiran macam-macam," tuturnya. 

Rasa gemetar itu, ia katakan terasa hingga ke dalam tulang, apalagi posisi ia sedang puasa. Lapar dan haus mendominasi tubuhnya. Sampai ketika dirinya dipanggil presiden untuk maju ke depan, Zubaidi tersadar, selangkah lagi ia bisa bersalaman dengan Jokowi.

Di tengah rasa bahagia, Zubaidi tetap menyimpan kekhawatiran. Selama 20 tahun menjadi tukang sampah, ia jarang sekali mangkir dari pekerjaannya mengambil sampah masyarakat sekitar Umbulharjo. Maka, sejak 31 Mei hingga 5 Juni lalu, ketika dirinya diajak bertemu Presiden Jokowi, ia khawatir tidak ada yang mengambil sampah masyarakat dan kemudian sampah tersebut menumpuk, mencemari lingkungan.

"Benar saja, ada beberapa sampah di daerah saya yang luput tidak diambil kawan, sehingga menumpuk. Saya juga sempat diprotes orang-orang perumahan karena tidak ambil sampah mereka. Ajakan dari tim Pak Jokowi begitu cepat, saya tidak sempat pamit, tapi saya sudah minta maaf sama mereka," katanya dengan mimik muka bersalah. Akhirnya, sehari setelah ia sampai di Yogyakarta, dengan kondisi yang belum fit betul, ia meniati untuk ambil sampah perumahan.

"Ya, ada sih yang tahu saya ke Jakarta ketemu Pak Jokowi, ada juga yang tidak maka saya kena marah," ucapnya lebih lanjut. Zubaidi juga membenarkan dirinya mendapat sejumlah materi sebagai apresiasi presiden terhadap perilaku jujurnya.

"Memang, saya dapat sejumlah uang tunai. Sebagian saya amalkan ke teman-teman saya saja yang sering sama saya di sini. Rasanya kalau saya dapat rezeki, saya juga ingin bagi-bagi rezeki itu. Sisanya bisa saya bawa pulang ke Mojokerto nanti saat hari raya, biar senang di kampung," paparnya lagi. Ia berharap, media massa yang menulis kisah kejujurannya bisa memberikan inspirasi bagi semua orang.

"Menemukan uang di jalan, bagi saya adalah ujian. Tidak sekali dua kali saya menemukan uang atau barang berharga terjatuh. Tapi Allah itu adil. Saya malah dapat rezeki lebih banyak juga sekarang," pungkasnya tersenyum. (M-1)

BERITA REKOMENDASI