Antisipasi Puso, STPP Magelang Ikut Berburu Tikus Sawah

CILACAP, KRJOGJA.com – Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang bersama petani, perangkat desa dan dibantu TNI melakukan  gerakan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tikus, di Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap guna mengantisipasi gagal panen atau puso.

Ketua Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang, Ir. Ali Racman M.Si menjelaskan pihaknya terlibat aktif dalam  memberikan solusi terhadap kendala pertanian di wilayah kabupaten Cilacap.

"Tikus sawah merupakan OPT yang harus dikendalikan dengan seksama karena jika merajalela bisa mengakibatkan tanaman menjadi puso. Gerakan pengendalian ini dilaksanakan di beberapa titik sarang tikus," kata Ali Rachman sebagaimana keterangan persnya, Selasa (05/06/2018).

Dia menjelaskan agar kegiatan tercapai, STPP Magelang bersinergi dengan dengan Dinas Pertanian Kab Cilacap, PPL, petugas OPT Pengendali Hama Penyakit (PHP), Komandan Koramil, Babinsa Kecamatan Kroya, Polsek Kecamatan Kroya dan  Kelompok Tani.

Adapun kelompok Tani yang terlibat adalah Sri Rahayu dan Toto Raharjo di Desa Karangturi, Kelompok Tani Candra Kusuma, Sri Rahayu dan Sari Wangsa di Desa Pesanggrahan, Kelompok Tani Sri Mukti 1, Sri Mukti 2, Sri Rejeki 1 dan Sri Rejeki 2 di Desa Pekuncen.

Penanggungjawab Alsintan Budi Wijayanto S.TP., M.Sc menambahkan serangan OPT tikus sawah (Rattus Argentiventer) bisa menjadi masalah apabila penanganan terlambat dilakukan setelah terjadi serangan. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya, monitoring lemah bisa menimbulkan ledakan populasi, tidak intensif karena alat dan sarana pengendalian terbatas, tidak kompak, dan tidak berkelanjutan.

"Tindakan pencegahan yang bisa diakukan untuk wilayah endemik, dilakukan pengendalian intensif berkelanjutan terutama 2 minggu sebelum dan sesudah tanam," ungkapnya.

Budi menjelaskan di wilayah sporadik dilakukan monitoring intensif untuk memantau dan menekan poluasi awal dengan penerapan TBS (Trap Barrier System) perangkap tikus pada tanam awal di habitat tikus, seperti tepi kampung, tanggul irigasi, pematang besar, dan tanggul jalan.

"Di wilayah aman  serangan tikus, dilakukan monitoring dengan memperhatikan tanda-tanda keberadaan tikus, seperti jejak kaki (footprint), lubang aktif, dan gejala serangan/kerusakan tanaman," tandasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap Ir Gunawan mengatakan gerakan pengendalian pemberantasan hama tikus ini, sudah terencana sebelumnya.

"Tujuannya, untuk penanggulangan secara dini terhadap kemungkinan serangan OPT
sehingga bisa mendukung percepatan Luas Tambah Tanam Kabpaten Cilacap dan Swasembada Pangan Nasional," kata Gunawan.

Selain pengendalian hama tikus, dilakukan penyerahan bantuan berupa welirang 10 kantong kemasan @5 Kg, tambahan 3 unit kompor tikus untuk menambah bantuan sebelumnya. (*)

BERITA REKOMENDASI