Banyak Motor ‘Kredit’, Angkudes Kesulitan Cari Penumpang

Editor: Ivan Aditya

BANYUMAS (KRjogja.com) – Makin banyaknya warga memiliki sepeda motor, meski dengan kredit, menjadikan jalan raya makin didominasi keberadaan sepeda motor yang lalu-lalang. Kondisi seperti itu berdampak pada sepinya penumpang untuk kendaraan angkutan umum, seperti angkutan pedesaan (angkudes) di berbagai kawasan. Banyaknya sepeda motor 'kreditan', para awak angkudes makin kesulitan mencari penumpang.

Pelaku bisnis showroom sepeda motor di Sokaraja, Sutoyo, Jumat (30/12/2016), mengakui makin ramainya orang membeli sepeda motor kreditan di berbagai kawasan. "Hal itu karena kredit sepeda motor sekarang ini amat gampang. Hanya punya Rp 1 juta, bahkan bisa kurang dari itu, bisa langsung ambil motor baru langsung pula dipakai di jalan raya. Sekarang ini hampir setiap KK punya minimal 1 sepeda motor. Ini yang menjadikan orang bepergian kemana-mana lebih memilih berkendara sepeda motor ketimbang angkutan umum seperti angkudes tersebut" katanya.

Salah seorang sopir angkudes di Terminal Wangon, Banyumas, Sarwanto (46), mengatakan, makin banyaknya angka pengguna kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, serta kemudahan membeli kredit motor membuat para sopir angkutan umum, termasuk dirinya sebagai sopir angkudes, mengeluhkan sepinya penumpang.

"Penghasilan saya sangat menurun drastis saat dimulainya kredit motor dengan uang muka murah. Karena mereka punya sepeda motor, meski kreditan, kini lebih memilih naik motor daripada naik angkot, micorbus atau juga angkudes. Bahkan anak sekolah yang ibaratnya belum punya SIM pun sekarang kalau berangkat sekolah ya pakai motor,” katanya.

Sopir angkudes di komplek Pasar Induk Ajibarang, Sundoko, mengatakan, sekarang ini sangat sulit mencari penumpang. Padahal dulunya masyarakat sangat mengandalkan angkutan umum sebagai sarana transportasi. Sehingga penghasilan sopir dan kenek pada saat itu menyenangkan. "Sekarang angkudes tak lagi pakai bantuan kenek. Itupun saya sebagai sopir merangkap kenek hanya dapat hasil bersih Rp 40 ribu/hari. Waduh, prihatin," paparnya.

Padahal berkendara sepeda motor sebenarnya riskan celaka. Menurut para sopir angkudes, jumlah korban tewas kecelakaan lalu-lintas didominasi pengendara sepeda motor.

"Sebenarnya kami ingin agar pemerintah ikut mengatur proses pembelian kredit sepeda motor. Misalnya dibikin aturan bahwa yang boleh beli kredit sepeda motor adalah orang-orang yang sudah punya SIM. Dengan cara itu jalan raya bisa tidak terlalu padat diisi pengendara sepeda motor. Dampaknya angkudes dan angkutan umum lainnya bergairah lagi diramaikan banyaknya penumpang" kata Sundoko. (Ero)

BERITA REKOMENDASI