Bentuk Penghormatan, Warga Adat Cilacap Beri Ganjar Blangkon

CILACAP, KRJOGJA.com – Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat adat Cilacap yang tergabung dalam Paguyuban Resik Kubur Jerotengah (PRKJ) memberikan sebuah blangkon kepada calon Gubernur (Cagub) Ganjar Pranowo. Mereka memberi sebuah blangkon sebagai simbol penghormatan tertinggi sekaligus sebagai hadiah dan doa agar Ganjar tetap menduduki kursi tertinggi di Provinsi Jawa Tengah.

Ganjar menerima Blangkon sebagai simbol penghormatan tersebut saat berkunjung ke rumah Ketua PRKJ Agus Sugiarto di Desa Pekuncen, Kecamatan Kroya, Cilacap, Rabu (28/3/2018). Selain Agus dan keluarga, belasan pengurus paguyuban juga turut hadir.

Kepada Ganjar, Agus mengatakan, masyarakat adat yang ada Cilacap saat ini merasa kurang mendapat perhatian pemerintah. Padahal, mereka menjadi pelestari adat dan kearifan lokal yang semakin tergerus modernisasi. Yang menjadi keprihatinan adalah penyereotipan kaum adat sebagai warga yang lekat dengan klenik dan cenderung berbuat negatif.

Menurut Agus, stereotip trersebut berkembang di masyarakat karena pengaruh televisi. Apalagi kalau di sinetron-sinetron televisi biasa digambarkan kalau kaum yang memakai blankon itu sebagai sosok orang yang jahat atau dukun.

Agus dan warga PRKJ mengaku dalam kesehariannya biasa memakai blankon. Tak terkecuali ketika menerima kedatangan Ganjar, seluruh anggota mengenakan blangkon. Begitupun Ganjar, setelah menerima blangkon berwarna biru gelap itu langsung dipakai. Selama dua jam dialog penuh kehangatan itu pun, blangkon terus nangkring menutupi rambut putih Ganjar.

"Kami sangat senang, akhirnya ada gubernur yang datang ke sini, dan Pak Ganjar satu-satunya gubernur yang pernah berkunjung di sini. Pak Ganjar orangnya merakyat, kami senang punya pemimpin seperti beliau," tutur Agus Sugiarto.  

Menurut Agus Sugiarto, anggotanya PRKJ di Cilacap sebanyak sekitar 12 ribu orang. PRKJ menurut Agus tidak hanya ada di Cilacap saja, tetapi juga ada di beberpa daerah lain di Jateng. Mesaki demikian Agus mengakui PRKJ hingga kini belum terdaftar secara resmi di pemerintah.

Menanggapi hal itu, Ganjar dengan menggunakan bahasa "ngapak' mengatakan, dirinya selalu memperhatikan tentang masyarakat adat dan seluruh budaya yang beragam di Jawa Tengah. Ketika masih aktif menjadi Gubernur Jateng ada kebijakan memakai busana adat setiap tanggal 15 dan pemakaian bahasa Jawa di lingkungan Pemprov Jateng. (Bdi)

 

BERITA REKOMENDASI