Jatuh Dari Pohon Saat 17-an, Tukirno Penderes Kini Lumpuh

Editor: KRjogja/Gus

BANYUMAS (KRjogja.com) – Menjadi penderes nira kelapa mensyaratkan fisik normal dengan kekuatan prima. Tukirno (30), warga Grumbul Karang Duwur RT 01 / RW 04, Desa Cidora, Kecamatan Lumbir, sebelumnya biasa kerja sebagai seorang penderes nira pohon kelapa. Setiap harinya minimal 20 pohon kelapa harus dipanjat untuk mendapatkan nira sebagai bahan dasar gula kelapa.

Yang di rumah, istri Tukirno, Rochana (25), selalu membantu memasak nira untuk dijadikan gula merah/kelapa. Begitulah rutinitas kerja dua insan manusia demi mencukupi nafkah sehari hari sejak mereka menjalin pernikahan di tahun 2010.

Naas dimulai tepat saat 17-an, di hari Kemerdekaan RI yang Rabu (17/8) kemarin. Saat itu, seperti pagi sebelumnya, dirinya memanjat pohon kelapa mengambil nira. Saat pada puncrit pohon, ia terjatuh dari ketinggian 16 meter. Karena di kebun kelapa yang sepi, saat terjatuh, tidak ada satu orang pun yang mengetahui kecelakaan tersebut. Sekitar 10 jam ia pingsan di tanah berbatu sehabis jatuh, barulah ada tetangganya yang melintas melihatnya. Sontak warga pun ramai menolong Tukirno untuk dibawa pulang.

"Saat siuman, nampak istri dan kedua orang tua saya panik dan menjerit histeris. Kemudian mereka membawa saya ke rumah sakit Spesialis Tulang Siaga Medika Banyumas. Setelah dilakukan pemeriksaan dan penanganan medis ternyata tulang pinggang saya patah. 20 hari saya opname di Rumah Sakit itu," kenang Tukirno, yang kini terbaring di dipan rumahnya, Rabu (14/9).

Tukirno memang memiliki Kartu Jamkesmas. Tapi ada beberapa obat yang harus dibelinya diluar jaminan kesehatan pemerintah. Karena keterbatasan anggaran dana operasional dari pihak keluarga, akhirnya ditempuh cara berobat jalan sembari berikhtiar ke berbagai pengobatan alternatif, tapi tidak membuahkan hasil maksimal. "Saya memang boleh pulang ke rumah, tetapi sakit lumpuh ini belum bisa disembuhkan, karena sebenarnya saya masih harus lama opname dengan obat-obat yang harus dibeli diluar tanggungan Jamkesmas. Ini yang amat memusingkan saya karena mana mungkin penderes punya duit ketika tidak nderes" ujarnya.

Pihak pemerintah Desa Cidora pun sebenarnya tidak tinggal diam. Melalui Kadus II, Miskam, ditempuhnya permohonan bantuan kecelakaan kerja ke Pemerintah Kabupaten Banyumas. "Sudah diajukan permohonan bantuan ke pemda perihal kecelakaan kerja penderes dalam waktu yang tidak terlalu lama pasca kejadian. Tapi sampai sekarang belum ada kucuran dana bantuan bagi Tukirno. Hanya dari PMI yang memberikan sembako tanpa ada bantuan uang untuk pengobatan seperak pun,"jelas Miskam.

Tukirno, meski tak lagi bisa kerja sebagai penders, kata Miskam, harus secara rutin beli obat Mecobalamin yang per lempeng isi 10 tablet seharga Rp 30 ribu. Tiga kali sehari/butir obat itu harus di minum rutin. Sehingga untuk satu lempeng paking hanya untuk kebutuhan 3 hari saja. Miskam menambahkan, untuk tiap seminggunya harus ada dana minimal Rp 100 ribu untuk beli obat dengan menyuruh tukang ojek yang membelinya. Kalau pas lagi tidak ada uang sama sekali ya bisa prei tidak makan obat itu. Padahal anjuran dokter, obat itulah yang menjadi penahan dirinya bisa bertahan hidup sampai sekarang,"katanya.

Ayah ibu Tukirno, Johari Ridam dan Saimah, berharap ada uluran bantuan kesembuhan dari Pemerintah Kabupaten buat putra sulungnya yang sudah memiliki tanggungan anak. "Sekarang anak saya, Tukirno, tergeletak sendirian. Istrinya, Rochana harus kerja sebagai PRT di Jakarta untuk bisa beli obat semampunya. Anak keluarga Tukirno sudah duduk di SD, butuh biaya sekolah. Kami sudah tidak punya apa apa pak, mohon dibantu," pinta Johari dan Saimah selaku perawat anak lelakinya yang kini lumpuh itu. (Ero)

 

 

BERITA REKOMENDASI