Kembalikan Kebersihan Air, Mangrove Segara Anakan Cilacap Berkualitas Lebih Baik

CILACAP, KRJOGJA.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar bersama sejumlah pejabat Pertamina melakukan penanaman mangrove di Pusat Konservasi Mangrove dan Studi Plasma Nutfah Indonesia di Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung laut, Cilacap, Selasa (05/03/2019). Kunjungan ke Pusat Konservasi Mangrove itu dilakukan usai meresmikan program Energi Mandiri Surya Angin (E-Mas Bayu) dan Energi Mandiri Tambak Ikan (E-Mbak Mina) yang dilaksanakan PT Pertamina Refinery Unit IV Cilacap di Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut. 

"Saya melihat paling tidak ada tiga hal penting di sini. Pertama, bentang alam Segara Anakan yang tadi sudah kita lalui bersama-sama dan cukup unik," kata Siti Nurbaya. Menurutnya, pihaknya sudah pernah membicarakan tentang Segara Anakan yang berada di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat, karena dinilai rumit, agak kompleks, spesifik bentang alamnya. Disamping itu, mangrovenya bagus dengan 'biodiversity' yang tinggi. 

Dijelaskan, kawasan mangrove di Segara Anakan lebih tinggi dari hutan mangrove yang ada di Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Oleh karena itu, pihaknya telah meminta Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) M R Karliansyah untuk mendeskripsikan kawasan mangrove Segara Anakan dengan baik. 

"Kita akan angkat untuk agenda nasional agar kawasan mangrove Segara Anakan, bisa terkenal seperti Karangsong sekarang. Bahkan mungkin akan bisa lebih baik karena lebih unik. Jadi, 'biodiversity'-nya tinggi, ini bisa menjadi pusat pengembangan mangrove juga," katanya.

Menteri mengatakan hal penting lain dalam kunjungannya ke Segara Anakan adalah program E-Mas Bayu yang dilaksanakan Pertamina di Dusun Bondan bisa menjadi model listrik tenaga surya dan listrik tenaga angin.

"Kalau kita lihat, daerahnya kan daerah pelosok, sehingga bisa dikembangkan energi surya dan energi angin," tegasnya. Apalagi sistem yang digunakan di Dusun Bondan tidak harus masuk ke sistem jaringan PLN seperti halnya yang banyak dikembangkan di luar negeri.

Disamping itu, kedatangannya ke Kampunglaut juga untuk melihat bagaimana kelembagaannya untuk menanganinya. "Apakah itu koperasi, BUMDes, dan lain-lain serta bagaimana kekuatan kelembagaan di kelompok masyarakatnya sendiri karena ini masih di kelompok tani," katanya. Apalagi sistem yang digunakan di Dusun Bondan itu tidak harus masuk ke sistem jaringan PLN seperti halnya yang banyak dikembangkan di luar negeri.

Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero) Budi Santoso Syarif mengatakan manfaat program E-Mas Bayu dan E-Mbak Mina telah dirasakan oleh masyarakat Dusun Bondan. "Saya berharap ke depannya bisa kita tularkan ke unit-unit lain. Saya berharap di sini juga tetap bisa 'sustain' sampai 37 keluarga," katanya.

General Manager Pertamina RU IV Cilacap Joko Priyono mengatakan pembangkit listrik tenaga hibrid yang memadukan tenaga surya dan angin itu merupakan tahap pertama dengan kapasitas 12 kWp (kilowattpeak). Menurutnya, pihaknya ke depan akan mengembangkannya sehingga seluruh masyarakat di Dusun Bondan bisa memanfaatkan energi listrik dari surya dan angin.(Otu)

BERITA REKOMENDASI