Korupsi Rp1,01 M, Pegawai PT Pegadian Purwokerto Ditahan

PURWOKERTO, KRJOGJA.com – Epl (32) oknum pegawai PT Pegadian Cabang Purwokerto yang bertugas sebagai pengelola  Unit Pelayanan Cabang (UPC) Pasar Cermai, Kamis (23/1/2020) dijebloskan di Rumah Tahanan (Rutan) Banyumas oleh penyidik tindak pidana korupsi Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwokerto usai melakukan korupsi senilai Rp Rp 1.011.813.180. 

Kepala Kejari (Kajari) Purwokerto Lidya Dewi SH MH, yang didampingi Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus  (Pidsus) Nilla Aldriani SH MH,menjelaskan Epl yang sudah ditetapkan menjadi tersangka berjenis perempuan beranak satu, sudah melakukan tindak pidama korupsi (Tipikor) dengan modus pengajuan kredit fiktif. "Akibat perbuatannya sehingga negara sudah dirugikan senilai Rp 1.011.813.180," kata Lidya Dewi.

Dijelaskan dalam pengajuan kredit fiktif dengan jenis kridit amanah yang diperuntukan untuk pembelian sepada motor, dan mobil,tersangka meminjam Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik saudaranya dan tetangganya sebanyak 47 nasabah. Kemudian setelah pengajuan kredit itu cair yang besarnya bervariasi dari Rp 20 juta hingga Rp 100 juta uangnya tidak dibelikan sepeda motor atau mobil tapi untuk kepentingan pribadi pelaku. Perbuatan itu dilakukan sejak tahun 2017 hingga 2018

Tersangka Epl dikawal petugas Kejari akan didalam mobil.(Foto:Driyanto)

 

Kasi Pidsus Nilla Aldriani, menambahkan dalam pencairan pengajuan kredit, pelaku tidak sesuai standar operasional, yakni yang seharusnya nasabah datang ke kantor untuk mengurus mengajukan kredit dan pencairan menerima uang. "Namun itu semua tidak dilakukan bahkan saat pencairan kredit untuk mengambil uang langsung diterima oleh pelaku,"jelas Nilla.

Guna mengkelabuhi perbuatanya kepada atasanya, pelaku membuat kuintasi palsu pembelian sepeda motor dan mobil dari dealer. Kasus terungkap setelah ada audit dari PT Pegadian Cabang Purwokerto dengan adanya audit dan pembayaran angsuran kredit macet mencapai Rp 1 miliar lebih. Selanjutnya kasus tersebut dilaporkan ke Kejari Purwokerto. Penyidik Tipikor sejak November 2019 melakukan penyelidikan dan setelah diketahui kerugian ditingkatkan ke penyidikan dan penetapan tersangka.

Ibu beranak satu dijerat dengan pasal 2,pasal 3 junto  pasal 8 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengam ancaman minimal 4 tahun, maksimal 20 tahun penjara.(Dri)

BERITA REKOMENDASI