Masyarakat Bonokeling Masih Fungsikan Lumbung Padi

BANYUMAS, KRJOGJA.com – Masyarakat adat Bonokeling, yakni masyarakat dengan ciri sebagai penganut Islam Aboge (Rebo-Wage Jw) di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang, Banyumas masih melestarikan fungsi lumbung padi sebagai solusi pemenuhan suplai beras bagi komunitas sekitar 1000 KK tersebut. Sampai kini, hampir setiap RT ada sekutar 20 bangunan kayu dan bambu bernama lumbung tersebut.

Kades Pekuncen, Suwarno, Selasa (20/6), mengatakan, hingga kini lumbung padi masih dijaga oleh masyarakat di lingkungan RT masing-masing. “Pada tahun 2012 lalu, jumlah lumbung padi di tingkat RT 20 buah. Hingga sekarang pun masih terjaga untuk simpan pinjam warga petani terutama para anak cucu Bonokeling. Lumbung padi oleh mereka dinilai sebagai solusi ketika terjadi kelangkaan beras di masyarakat luas,” kata dia.

Pemuka adat Bonokeling Desa Pekuncen, Sumitro, mengatakan, sejak nenek moyang hingga sekarang, lumbung padi masih eksis dan terjaga. Lumbung amat bermanfaat bagi warga karena sebagai lembaga penolong. Setiap musim panen tiba para warga menyetorkan atau mengembalikan padi yang sebelumnya telah dipinjam.

Pengaruh adat Bonokeling tentang budaya lumbung padi ternyata sampai ke desa tetangga, yakni Desa Margasana. Kepala Desa Margasana, Tri Setyodono mengatakan pengaruh masyarakat adat Bonokeling tentang budaya lumbung padi telah lama pula diikuti masyarakatnya. "Lumbung padi di tingkatan RT juga masih dipelihara oleh warga Desa Margasana, bahkan sampai ke desa Gentawangi" katanya.

Disebutkan, sebagai lembaga sosial ekonomi masyarakat, lumbung padi difungsikan sebagai wadah simpan pinjam padi oleh masyarakat sejak dulu. Setiap musim paceklik (kemarau panjang) tiba, umumnya warga akan meminjam padi untuk digiling jadi beras. Petani akan mengembalikan padi ketika panen berikutnya tiba,” kata dia.(Ero)

BERITA REKOMENDASI