Penganut Islam Bonokeling Pekuncen Butuh Museum dan Joglo

Editor: KRjogja/Gus

BANYUMAS (KRjogja.com) – Komunitas adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas sampai sekarang masih hidup dan dijaga para keturunan Eyang Bonokeling dengan ciri Islam Aboge. Warna Islam seperti itu juga masih hidup di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, dan Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang. 

Beriring adanya komunitas dengan praktik religi Islam yang bersifat khas dan berbeda dengan masyarakat di sekitarnya tersebut, menyebabkan komunitas yang sering disebut sebagai Islam Kejawen, Islam Blangkon atau Islam Aboge ini butuh adanya bangunan museum dan joglo.

Para penganut Adat Bonokeling di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang kini menjadi pelopor yang mewacanakan perlunya dibangun rumah joglo dan museum Islam Aboge di Desa Pekuncen. 
Ketua Pelestari Adat Bonokeling, Sumitro, Senin (3/7), mengatakan, upaya pelestarian adat harus dimulai adanya bangunan joglo dan museum. "Adanya bangunan joglo besar dan museum amat penting. Dua kompleks bangunan tersebut nantinya merupakan fasilitas yang bisa dimanfaatkan pihak diluar masyarakat adat Bonokeling untuk mempelajari atau sekadar ingin mengetahui kekayaan budaya dan adat istiadat kami" katanya.

Sumitro mengakui, dengan makin banyak masyarakat luar Bonokeling yang datang ke Desa Pekuncen untuk meneliti, memotret, dan bertanya banyak hal tentang Bonokeling, maka artinya pola hidup masyarakatnya memang unik dan menarik. Bahkan lanjut Sumitro, kini jumlah peneliti, akademisi, jurnalis, fotografer, wisatawan dan masyarakat luar Kecamatan Jatilawang yang berkunjung ke komunitas Bonokeling semakin banyak setiap harinya.

"Wacana pendirian joglo dan museum itu terus menguat karena sampai saat ini tamu yang datang ke Pekuncen terbilang makin banyak. Terlebih lagi saat ada gelaran Perlon Unggah-unggahan dan ritual lain dirayakan, pasti orang luar daerah banyak yang datang kesini ingin lihat, ingin tahu. Kami sebagai tuan rumah tentu harus menerima mereka dengan sebaik-baiknya. Bangunan joglo besar dan museum akan menjadi pusat area penerima tamu, dan pusat pelestari budaya kami," ungkap Sumitro.

Disebutkan, selain para wartawan, ada juga para pehobi foto yang datang. Yang dari luar kota, bahkan sampai mencari penginapan di kompleks komunitas Bonokeling juga makin banyak jumlahnya. "Makanya mulai dari sekarang berbagai hal terkait dengan jumlah tamu non pengikut Banakeling ini harus kami pikirkan dan atur. Kami ingin menjadi tuan rumah yang baik terhadap para tamu” kata Sumitro. Ia berharap dengan adanya joglo dan museum, maka para tamu dari luar bisa mengenal tentang berbagai benda budaya khas Bonokeling lebih baik dan lebih detail. (Ero)

BERITA REKOMENDASI