Produksi Menurun, Cilacap Canangkan Kampung SIdat

Editor: Agus Sigit

CILACAP, KRJOGJA.com – Ekspor ikan  sidat (anguilla)  terus menurun, hal tersebut tidak lepas dari produksinya yang tidak maksimal, karena  hanya  mengandalkan  hasil tangkapan alam yang  bergantung dengan musim.

“Kita menjadi sorotan karena Sidat kita produksinya sangat menurun. Jadi sudah masuk kategori ‘lampu kuning’ oleh Uni Eropa karena hasil tangkapan dari alam jauh berkurang. Perlu komitmen bersama untuk melestarikan Sidat kita”, ujar Perwakilan FAO Indonesia, Dr. Ageng Heriyanto pada pencanangan Kampung Sidat di Desa Kaliwungu Kecamatan Kedungreja, Cilacap, Kamis  (22/11/2018).

Salah satu untuk melestarikan keberadaan ikan tersebut, maka diperlukan upaya budi daya pada daerah-daerah penghasil ikan sidat. Kepala Pusat Riset Perikanan KKP, Dr. Toni Rohimat dalam laporannya menjelaskan, ada beberapa faktor yang melatar belakangi penetapan Desa Kaliwungu sebagai Kampung Sidat. Antara lain telah berkembangnya budidaya ikan sidat di masyarakat dan aspek kelembagaan.

“Kami melihat luas kawasan budidaya sudah lebih dari 3 hektar. Ada 36 kolam berukuran 15 x 20 meter terdiri dari kolam pendederan dari ukuran elver ke ukuran konsumsi, dan selanjutnya dapat ditingkatkan nilainya melalui produksi olahan sidat untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat”, kata Toni.

Sedangkan dari aspek kelembagaan, di Desa Kaliwungu telah terbentuk kelompok budidaya dalam bentuk Koperasi Mina Sidat Bersatu beranggotakan 50 orang. Adapun tujuan pencanangan Kampung Sidat yaitu menekankan usaha budidaya berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

“Keluaran yang diharapkan yakni tersedianya kapasitas rencana pengelolaan perairan umum dan daratan, terutama Sidat, berdasarkan budidaya pengolahan perikanan dengan pendekatan ekosistem”, tambahnya.

Sedang Sekda Cilacap, Farid Ma’ruf mengatakan, sentra pengembangan ikan sidat berada di Kecamatan Kedungreja, Patimuan, Kroya, Adipala, dan Sampang. Adapun ikan sidat dibudidayakan pada lahan seluas 17,8 hektar dan mampu menghasilkan produksi mencapai 30,14 ton di tahun 2017. Sedangkan penangkapan sidat berbagai ukuran mencapai 99,32 ton. Sebagian besar dipasarkan keluar daerah, bahkan diekspor ke Jepang.

Dalam pengembangan Sidat di Cilacap  didukung keberadaan 800 orang nelayan, 13 pengepul, pembudidaya yang tergabung dalam Pokdakan, Asosiasi Sidat, dan Koperasi Sidat, serta pengolah Sidat yang mengolah Sidat menjadi beberapa menu makan dan minuman, termasuk ekstrak Sidat. (Otu) 

 

BERITA REKOMENDASI