Tanah Longsor di Banjarnegara, Empat Orang Tewas

Editor: Ivan Aditya

BANJARNEGARA, KRJOGJA.com – Tanah longsor di Desa Pagentan Kecamatan Pagentan Banjarnegara Sabtu (20/11/2021) merenggut empat nyawa termasuk seorang bidan. Korban tewas dalam musibah adalah Bunga Cintra Arumdhani (13), Alfino Soedarmadji (11), Partini (36) dan Andriyani Erowati (42).

Sedangkan satu korban lainnya, Putri Olivia Soedarmadji (9) selamat namun mengalami luka-luka. Peristiwa tersebut terjadi saat para korban sedang tidur pulas. Para korban berasal satu keluarga, kecuali Andriyani Erowati.

Korban Andriyani merupakan bidan PNS di Puskesmas Pagentan 1 dan indekos di sebelah rumah yang dihuni oleh para korban lain sambil membuka Praktik Mandiri Bidan. Wanita lajang itu berasal dari Desa Purwanegara Banjarnegara.

Kepala BPBD Banjarnegara Aris Sudaryanto mengatakan, tanah longsor di Pagentan terjadi pukul 21.30 saat hujan deras. “Tanah yang longsor berupa tebing setinggi 15 meter di sisi atas dua yang dihuni para korban,” ujarnya.

Akibat kejadian itu, dua rumah warga milik Budiman (alm) dan Waldiyah (alm) yang berada di bawahnya langsung tertimbun berikut penghuninya, berikut sebuah warung. Menurut Aris, upaya evakuasi para korban dilakukan beberapa saat setelah kejadian, dengan melibatkan personel BPBD, TNI, Polri dan relawan.

Alat berat dikerahkan untuk mencari para korban. Evakuasi baru berakhir sekitar pukul 05.00 WIB. Korban Putri Olivia Soedarmadji (9) ditemukan selamat karena terlindungi oleh papan kayu. Sedangkan 4 korban lainnya ditemukan meninggal.

Suyanto (70) seorang warga yang tinggal hanya sekitar 25 meter dari lokasi kejadian, kepada KRJOGJA.com menuturkan, saat peristiwa terjadi terdengar suara keras seperti ada benda jatuh. “Saya langsung membuka pintu samping dan saya lihat tebing di sebelah dua rumah itu longsor. Kedua rumah itu ambruk tertimbun tanah,” ujarnya.

Pelaksana harian bupati Banjarnegara menyatakan prihatin atas terjadinya musibah tersebut. “Kami minta semua warga yang tinggal di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan,” katanya.

Sosialisasi kepada mayarakat tentang kebencanaan, menurut Syamsudin terus dilakukan karena dari 20 kecamatan di Banjarnegara hampir seluruhnya merupakan daerah rawan bencana. Dalam pada itu, dua hari sebelumnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana di Lapangan Desa Wanayasa Kamis (18/11/2021) meminta masyarakat Banjarnegara untuk menggunakan ilmu tradisional dalam melihat situasi alam, yaitu ilmu titen saat terjadi hujan turun deras terus-menerus di area rawan bencana longsor.

“Masyarakat perlu diminta menyiapkan tempat mengungsi jika terjadi tanda-tanda alam terjadinya bencana. Dengan kesiapsiagaan yang baik, akan memberikan rasa aman bagi masyarakat,” katanya sambil menambahkan Kabupaten Banjarnegara selalu menjadi perhatian nasional karena rawan bencana saat musim penghujan tiba. (Tar)

BERITA REKOMENDASI