Warga Winong Keluhkan Limbah PLTU S2P

CILACAP, KRJOGJA.com – Merasa terganggu dengan suara bising dan juga polusi udara yang ditimbulkan dari PLTU Karangkandri, 20 orang yang mengaku mewakili seluruh warga Dusun Winong Desa Slarang Kecamatan Kesugihan, Cilacap mengadu ke kantor Bupati Cilacap, Rabu (31/07/2019). 

Menurutnya, tingkat kebisingan tersebut sangat tinggi mencapai diatas 85 derajat sehingga membuat dinding, kaca jendela rumah warga bergetar terus menerus.  "Kondisi ini sangat menggangu kenyamanan warga Winong, terlebih dengan siswa Sekolahah Dasar Negeri 03 Slarang, yang lokasinya sangat dekat dengan PLTU, karena berjarak hanya dua puluh meter dengan pagar komplek PLTU itu,"ujar Riyanto yang tergabung dalam Forum Masyarakat Winong Peduli Lingkungan (FMWPL). Akibatnya proses belajar mengajar pun menjadi terganggu. Menurutnya, Kondisi itu sudah terjadi sejak  seminggu lalu, atau tepatnya Kamis (25/6) pekan lalu. 

"Memang sebelumnya warga melalui perangkat desa telah mendengar akan ada kegiatan 'steam blow' atau penguapan sebagai upaya pembersihan boiler (Ketel) pada Proyek Pengembangan PLTU Karang Kandri kapasitas 1×1000 Mega Watt, namun mereka tidak menyangka kegiatan tersebut memiliki dampak lingkungan sedahyat itu,"lanjutnya. Sehingga pihaknya mendesak Pemkab Cilacap untuk pengawasan dan jika perlu pemberian sanksi administratif terhadap pemilik proyek tersebut.

Dijelaskan, ketika bertemu  Bupati Cilacap, pihaknya juga melaporkan berbagai dampak dari keberadaan proyek tersebut, termasuk pula tuntutan warga agar dipenuhi Pemkab Cilacap maupun pemilik proyek. "Pertama masalah tempat penyimpanan sementara (TPS) limbah B3 'Fly Ash dan bottom ash' harus dipindahkan secepatnya, dikarenakan sampai saat ini tempat pembuangan limbah B3 itu masih aktif, padahal sesuai kesepakatan dengan managemen S2P pemilik PLTU tersebut limbah B3 akan diberikan ke pihak ketiga,"lanjutnya. 

Kemudian adanya pengadaan paranet yang tidak sesuai kesepakatan awal dengan warga serta keberadaan paranet yang tidak dapat menyelesaikan masalah limbah B3. "Maka dari itu disampaikan dengan tegas dan tanpa adanya pengurangan apapun bahwa PLTU harus memindahkan TPS 'fly ash dan bottom ash' agar jauh dari pemukiman warga.
"Kami juga mempermasalahkan penghijauan, agar PLTU harus segera menanam kembali pohon penghijauan, karena penanaman pohon yang sudah dilakukan PLTU diketahui pohonnya sudah mati kering akibat tidak dirawat dengan baik. "Kami minta setelah ditanami kembali agar pohon dirawat atau disirami dengan rutin, serta melakukan penghijauan di wilayah Dusun Winong dengan pohon peneduh dan produktif,"katanya.

Permasalahan lain yang dikemukan, terkait dengan selokan atau saluran pembuangan air dari PLTU harus segera dinormalisasikan , karena saat ini selokan itu ditengarai sebagai tempat berkembangbiakan nyamuk penyebar penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) serta memunculkan bau menyengat ke sekitar pemukiman warga. 

"Terkait dengan pembayaran PDAM diserahkan sepenuhnya kepada pihak PLTU, karena pemberian dana untuk penyediaan air bersih dari PDAM senilai Rp 100.000 per bulan tidaklah cukup, karena warga masih terbebani kekurangan dari pembayaran air ke PDAM, karena golongan yang diberikan PDAM terlalu tinggi yaitu golongan B1"tambahnya.

Disamping itu, masalah jalan penghubung antara Dusun Winong dengan Desa Karangkandri diperlukan adanya penjagaan oleh PLTU, karena warga yang melintasi jalan tersebut merasa terganggu dengan keberadaan alat-alat berat yang lalu lalang serta truk pengangkut material ke PLTU dan tenaga kerja asing yang melintasi, sehingga jalan tersebut menjadi rawan kecelakaan. (Otu)

BERITA REKOMENDASI