10 Perusahaan Kayu Lapis di Temanggung Kolaps, Ini Sebabnya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Temanggung mencatat setidaknya 10 perusahaan kayu lapis di daerah tersebut kolaps, dan satu diantaranya sudah bangkrut dan tidak berproduksi.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Temanggung, Agus Sarwono mengatakan perusahaan yang kolaps tersebut selama ini mengekspor hasil produksi ke sejumlah negara yang salah satunya ekspor ke China.

“Perusahaan terpengaruh pada pembatasan kuota pembelian kayu lapis dari negeri tirai bambu, mereka kolaps,” katanya, Jumat (14/2/2020).

Dia mengatakan performa perusahaan yang terus turun tersebut terjadi sekitar tiga tahun terakhir. Dampaknya secara nyata ribuan tenaga kerja dari sektor perkayuan terancam kehilangan pekerjaan. “Ini sangat mengkhawatirkan, dampaknya tentu hampir di semua sektor,” kataya

Dia menjelaskan, Cina masih memberlakukan pembatasan kuota kayu lapis. Sementara bahan baku yang diperlukan harganya semakin mahal karena barangnya memang sudah menipis. Penjualan di Cina pun juga lambat, sehingga beban produksi tinggi sedangkan pendapatan lebih kecil. Keuangan perusahaan menjadi negatif.

“Sekarang ada perusahaan yang sudah dijual, yakni satu di wilayah Parakan, sudah tidak produksi dan kondisinya sudah mau dilelang bank, dijual. Intinya bahwa mereka sudah tidak mampu berproduksi lagi,”ungkap Agus

Agus melanjutkan, apalagi saat menjelang perayaan tahun baru imlek, dimana dua bulan sebelumnya pengiriman kayu lapis sudah mesti libur, karena di sana memang libur. Dampaknya barang-barang kayu lapis di sini mesti tertahan di gudang pelabuhan.

“Padahal nyewa di gudang pelabuhan juga mahal. Yang bangkrut baru dengar satu, yang lain masih kolaps, hanya tinggal bertahan saja, nunggu investor dari luar,” kata Agus.

Ia menyebutkan, perusahaan di Temanggung yang kolaps jumlahnya lebih dari 10 perusahaan. Rata-rata merupakan perusahaan perkayuan. Tiap perusahaan itu mempunyai karyawan yang jumlahnya ribuan. Dari semua perusahaan kayu di daerah itu, yang masih bertahan hanya TKPI di Kecamatan Pringsurat saja. Hal itu karena TKPI memproduksi kayu portable dan ekspornya bukan hanya ke China, tapi ke beberapa negara lain.

“Ribuan karyawan yang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah nunggu waktu saja. Perusahaan yang bangkrut di Parakan sudah tidak ada tenaga kerjanya, semua sudah terkena PHK,” terang Agus. (Osy)

BERITA TERKAIT