25 Korban Kraton Agung Sejagad Lapor ke Polda Jateng

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Sebanyak 25 warga melaporkan Raja Toto Santosa Hadiningrat dan Permaisuri Fani Aminadia, dua pimpinan Kraton Agung Sejagat (KAS) ke Polda Jawa Tengah. Mereka merasa jadi korban dugaan penipuan yang dilakukan kedua tersangka itu.

Kabid Humas Polda Jateng Kombespol Iskandar Fitriana Sutisna mengatakan, pada pelapor itu sudah menjalani pemeriksaan polisi. "Mereka ini melapor karena merasa dikelabui. Mengeluarkan sejumlah uang, lalu dijanjikan dengan jabatan dan gaji dengan uang dollar AS," ungkapnya di kompleks KAS, Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Rabu (22/01/2020).

Baca juga :

Kontrakan Raja Kraton Agung Sejagat digerebek, Mengejutkan! Ini Yang Ditemukan
Geledah Keraton Agung Sejagat, Polisi Temukan Ini

Menurutnya, mereka mendapat janji akan memperoleh kehidupan yang makmur. Namun hingga polisi mengungkap kasus tersebut, janji-janji yang disampaikan belum pernah terwujud.

Polisi mendata jika setiap pengikut KAS ditarik sumbangan antara Rp 2 juta – Rp 30 juta. Namun, diduga ada pengikut yang menyetorkan uang untuk kerajaan hingga mencapai ratusan juta rupiah.

Penyidikan polisi juga menemukan bahwa selama beroperasi tahun 2018 – 2019, KAS menggunakan sepuluh rekening tabungan. Secara total, nilai transfer uang yang masuk ke rekening buku tabungan itu mencapai Rp 1,3 miliar. "Uang itu berasal dari para anggota KAS. Namun, saat ini tersisa saldo kurang lebih Rp 20 juta," tuturnya.

Diduga uang itu digunakkan untuk berbagai keperluan kerajaan, termasuk kedua tersangka. "Antara lain untuk seragam, topi, keris, kartu identitas keanggotaan keraton, kop diplomatik, keanggotaan PBB, juga untuk penyelenggaraan karnaval," terangnya.

Polisi menjerat tersangka dengan pelanggaran Pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman hukuman penjara paling lama empat tahun, dan Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang penyiaran berita bohong kepada masyarakat dengan ancaman penjara paling lama sepuluh tahun penjara.

"Sementara baru dua tersangka, namun terus kami dalami dan tergantung bagaimana hasilnya nanti, tetapi, bukan tidak mungkin akan muncul tersangka baru," tegasnya.

Kendati demikian, penyidik belum akan menerapkan pasal tindak pidana makar kepada keduanya. Polisi belum menemukan niat keduanya untuk berbuat makar. Hasil pemeriksaan, lanjutnya, keduanya masih mengakui NKRI dan pemerintahaan Presiden Joko Widodo. (Jas)

BERITA REKOMENDASI