8,22 Persen Anak di Purworejo Alami Stunting

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Kurang lebih 8,22 persen dari 43.664 anak di Kabupaten Purworejo mengalami stunting atau mengalami masalah gizi kronis. Tumbuh kembang 3.589 anak itu terganggu dan berpotensi menyebabkan persoalan sosial ketika kelak mereka dewasa.

Kondisi itu merupakan imbas kurangnya asupan gizi dalam waktu lama yang terjadi sejak bayi masih dalam kandungan. “Ibu hamil kurang mengonsumsi makanan bergizi. Persoalan stunting inilah patut menjadi perhatian seluruh elemen untuk segera dituntaskan,” tegas Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Purworejo, Fatimah Verena Prihastyari Agus Bastian, menjawab pertanyaan KRJOGJA.com, Jumat (04/06/2021).

Menurutnya, kurangnya asupan gizi itu akibat persoalan multi dimensi yang dialami masyarakat Kabupaten Purworejo. Risiko terjadinya stunting, katanya, dapat ditekan apabila pemberian asupan gizi dan pola asuhan yang baik dilakukan secara optimal dalam seribu hari pertama kehidupan anak, yakni sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

Dikatakan, seribu hari pertama kehidupan anak sangat penting dalam kehidupan seseorang. “Asupan yang cukup gizi dan pola asuh yang baik pada masa awal tumbuh kembang anak, akan menentukan kesehatan serta kecerdasan seseorang,” tuturnya.

TP PKK Kabupaten Purworejo, katanya, memiliki peranan penting dalam membina keluarga. PKK memiliki kader mulai tingkat kabupaten hingga akar rumput di seluruh desa.

Mereka menjadi ujung tombak dalam sosialisasi persoalan stunting kepada masyarakat. “Sampaikan berbagai informasi yang benar untuk mengatasi persoalan stunting, bimbing setiap ibu agar selalu memperhatikan kecukupan gizi dan pola asuh anak oleh keluarga,” ungkapnya.

Apalagi, kata Fatimah, keluarga menjadi faktor penting dalam pendidikan anak. Anak usia 0 – 18 tahun menghabiskan 60-80 persen hidupnya bersama keluarga. “Sampai usia 18 tahun, mereka masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang anak tidak lepas dari kehangatan dalam keluarga,” paparnya.

Pemerhati gizi keluarga Mujiyani Bambang SKM MM mengemukakan, pencegahan stunting dapat diawali dengan melakukan pengamatan ibu hamil. Selain itu, setiap kelahiran terutama peristiwa bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) harus dipantau dan didampingi secara intensif. “BBLR nantinya bisa menjadi stunting,” ucapnya.

Dikatakan, pangan bergizi tidak harus mahal. Kabupaten Purworejo, lanjutnya, dikaruniai tanah subur yang dapat dimanfaatkan untuk membudidayakan aneka sumber pangan bergizi. “Baik pangan nabati atau hewani, semua lengkap ada di Purworejo. Bahkan dengan sedikit kreativitas, pangan bergizi bisa dikembangkan di lingkungan sekitar rumah,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI