ABK Asal Purworejo Diduga Jadi Korban Kapal Tenggelam

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Nasib Hari Yanto (33) pemuda warga Kelurahan Katerban Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo tidak jelas pascahilang kontaknya kapal kargo MV Nur Allya di perairan Halmahera Maluku Utara, empat bulan lalu. Pihak keluarga berharap tim SAR dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menggunakan alat canggih untuk memastikan keberadaan kapal tersebut.

Kapal bermuatan 51.500 wet metric tonne (WMT) bijih nikel itu diduga tenggelam ketika perjalanan dari Halmahera menuju Morosi Sulawesi Tenggara. Kapal berbendera Indonesia milik PT Gurita Lintas Samudera itu hilang kontak pada 21 Agustus 2019, pukul 03.56 WIT. Sejak peristiwa itu, Basarnas dan KNKT melakukan pencarian keberadaan kapal.

Keluarga korban selalu mendapat informasi tentang proses pencarian yang dilakukan Basarnas dan KNKT. Pihak keluarga menginginkan pihak terkait bisa memastikan keberadaan kapal tersebut.

"Memang beritanya sudah ditemukan, tenggelam di dasar perairan Halmahera, tapi sampai sekarang bukti visualnya tidak ada," ungkap kerabat korban Fajar Merry Saputro, kepada KRJOGJA.com, Sabtu (21/12/2019).

Pihak keluarga masih berharap pihak terkait terus melakukan pencarian. Barangkali, katanya, Basarnas atau KNKT dapat menerjunkan ROV atau kapal selam robot yang bisa dikendalikan jarak jauh dan memiliki kamera di tubuhnya.

Alat tersebut sama dengan yang digunakan Basarnas untuk mencari keberadaan KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba. "Nyatanya berhasil menemukan keberadaannya, sehingga keluarga korban meyakni jika kapal dinaiki kerabat mereka memang benar tenggelam," ucapnya.

Pihak keluarga, katanya, sempat diminta untuk bersumpah bahwa kerabat kami merupakan korban kapal tenggelam. Namun, 25 keluarga ABK kapal menolak menandatangani surat pernyataan yang dikirimkan karena belum meyakini kapal tenggelam.

Fajar menyambut positif upaya KNKT kembali melakukan upaya pencaria dengan alat Multi Beam Echo Sounder (MBES). Proses itu dilaksanakan pada 16 – 25 November 2019.

"Namun, sampai sekarang kami belum mengetahui hasilnya. Keluarga hanya bisa pasrah kepada Yang Mahakuasa, semoga segera diberi kejelasan nasib saudara kami,"  tuturnya. (Jas)
  

BERITA REKOMENDASI