Ada Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Warga Terganggu

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Masyarakat Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo dihebohkan dengan berdirinya Keraton Agung Sejagat (KAS) di desanya. Pengikut mendirikan bangunan keraton di rumah salah satu warga dan menggelar wilujengan atau syukuran atas berdirinya kerajaan itu beberapa hari lalu. 

Baca Juga: Sultan Ingin Upayakan Penanganan Klithih Dari Pendekatan Psikologis Keluarga

Kepala Desa Pogung Juru Tengah Slamet Purwadi membenarkan keberadaan keraton itu di desanya. "Sepengetahuan saya, aktivitas komunitas di sana itu sudah ada sejak sejak tahun 2009 – 2010. Namun dulu bentuknya bukan keraton, namun lembaga bernama Purworejo DEC, sedangkan keraton mulai dibangun sekitar dua tahun terakhir," ungkapnya menjawab pertanyaan KRJOGJA.com, Senin (13/1/2020). 

Menurutnya, aktivitas keraton itu menarik perhatian terutama setelah Keraton Agung Sejagat menggelar karnaval syukuran berdirinya keraton. Ratusan anggota keraton mengikuti prosesi berjalan mengelilingi Pogung Juru Tengah itu. 

Pihak desa belum pernah mengetahui legalitas lembaga tersebut. Adapun aktivitas di kompleks itu hanya berupa pertemuan rutin yang dihadiri anggota dari berbagai daerah. Namun menjelang wilujengan, pengurus keraton datang ke kantor desa untuk berkomunikasi dan meminta pengantar untuk izin keramaian.  

Dikatakan, sebagian besar pengikut keraton asing bagi warga. "Sebagian besar bukan orang Pogung, bahkan Bayan. Hanya ada empat atau lima yang dari wilayah kami," ucapnya. 

Warga menyikapi kegiatan tersebut dengan penolakan dan menyampaikannya secara lisan ke pemerintah desa. Pemdes menindaklanjuti dengan koordinasi dan mengirim surat pernyataan warga ke Kecamatan Bayan. "Warga berharap aktivitas tersebut pindah dari Pogung Juru Tengah. Kami juga imbau warga untuk menjaga situasi tetap kondusif," tegasnya. 

Sementara itu, pemimpin KAS Toto Santosa Hadiningrat mengatakan, keraton tersebut merupakan perwujudan berakhirnya perjanjian 500 tahun yang ditandatangani penguasa terakhir Majapahit Dyah Ranawijaya dengan Portugis di Malaka tahun 1518. Berakhirnya perjanjian itu menandakan selesainya dominasi orang barat dan kembalinya kekuasaan tertinggi kepada pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat. 

"Wilujengan Keraton Agung Sejagat adalah untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke Jawa," tutur Totok yang bergelar Rangkai Mataram Agung Joyokusumo Wangsa Sanjaya itu. (Jas)

Baca Juga: Petani Petai di Kebumen Alami Fenomena Langka

 

BERITA REKOMENDASI