Ancam NKRI, Hoax Marak Karena Masyarakat Tidak Bijak Bermedsos

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Sebaran berita bohong atau hoax menjadi ancaman perpecahan bangsa Indonesia. Informasi hoaks marak dan mudah menyebar antara lain disebabkan masyarakat yang kurang bijak dalam bermedia sosial (medsos).

Hoax marak seiring majunya teknologi informasi. "Berbagai platform medsos muncul, ponsel semakin canggih, tapi tidak diimbangi dengan
kemampuan masyarakat dalam mencerna teknologi secara baik," ungkap Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho, menjawab pertanyaan KRJOGJA.com, di Purworejo, Minggu (15/4/2018).

Menurutnya, hoax menyebar karena masyarakat telanjut bermedsos namun sebagian belum bijak menggunakannya. Seseorang, katanya, dengan mudah membagi sebuah informasi tanpa melakukan penelusuran kebenaran berita itu.

Informasi tersebar dari seseorang, terus-menerus disebarkan pihak lain sehingga menjadi viral. Sebagian orang mempercayai informasi bohong itu kemudian melakukan tindakan yang tidak produktif. Septiaji mencontohkan pada hoax penculikan anak oleh orang gila beberapa waktu lalu, menyebabkan orang tidak bersalah dianiaya.

"Tindakan itu terjadi karena masyarakat menelan mentah-mentah sebuah informasi, padahal berita bohong. Seandainya mereka mau bijak, mencerna pelan-pelan, menelusuri kebenaran informasi, maka persekusi dapat dihindari," tegasnya.

Selain persoalan literasi, katanya, terjadinya polarisasi pandangan sebagian masyarakat Indonesia juga menjadi faktor maraknya hoax. Polarisasi antara lain disebabkan kebiasaan warga yang hanya mau berkumpul dan berkomunikasi dengan orang yang berpandangan sama dalam medsos.

"Kalau berkumpul di dunia nyata, mungkin polarisasi tidak terlihat. Namun ketika kita buka ponsel, terlihat betul bagaimana antara teman jarang berkomunikasi karena tidak sepandangan atau beda ide," terangnya.

Polarisasi diduga menjadi penyebab pelaku penyebaran hoaks tidak hanya kalangan masyarakat berpendidikan rendah. Pada beberapa kasus penyebaran hoax yang dilaporkan kepolisian, pelakunya adalah kalangan berpendidikan tinggi.

Mafindo membuat terobosan berupa aplikasi cek fakta dan hoax buzzer tools dengan bekerjasama dengan komunitas jurnalis, media arusutama, perusahaan teknologi dan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). "Jurnalis, relawan, masyarakat dan pemerintah bisa berkolaborasi menyajikan informasi kredibel demi memerangi hoax," tegasnya.

Selain itu, Mafindo mengembangkan sayap dengan membentuk organisasi serupa tingkat kabupaten dan kota. Saat ini, lanjutnya, Mafindo terbentuk di 17 kabupaten dan kota, termasuk Purworejo. "Mafindo di kabupaten menggelar sosialisasi cegah hoax bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan media," tandasnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI