Antisipasi Gangguan Pemilu Bawaslu Lakukan Operasi di Dunia Maya

Editor: Ivan Aditya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Pelaksanaan Pemilu 2019 kemarin, baik Pemilu Legislatif maupun Presiden, telah menjadikan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Magelang, memiliki banyak pengalaman. Salah satunya bagaimana mengantisipasi dan memecahkan masalah dan tantangan yang dapat mengganggu pelaksanaan Pemilu tersebut.

Tantangan terbaru yang tidak pernah dijumpai pada Pemilu-Pemilu sebelumnya, adalah bagaimana menangani masalah dengan cepat dan tepat menggunakan kemajuan teknologi informatika. “Pemilu 2019 kemarin, kami banyak belajar tentang bagaimana menangani dan menyelesaikan masalah kepemiluan menggunakan kemajuan teknologi, salah satunya media sosial. Jika tidak mau menjadi viral, maka jangan menunda-nunda masalah,” kata Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang, M Habib Shaleh SS dalam kegiatan digital literasi dengan tema ‘Berdemokrasi yang santun di dunia digital’ yang digelar oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, Senin (09/08/2021).

Disampaikan Habib, kemajuan teknologi informatika, mau tidak mau sebagai penyelenggara Pemilu juga harus mengikutinya. “Jika tidak mau permasalahan kepemiluan menjadi bahan konsumsi publik dan menjadi viral, maka kita harus selangkah lebih maju dalam menggunakan teknologi informatika khususnya media sosial. Operasi di dunia maya baik facebook, intagram, twitter, grup-grup WhatApp dan lainnya, saat pemilu kemarin terus kami lakukan. Jika menemukan permasalahan, maka langsung kami carikan penyelesaiannya. Tidak boleh menunggu terlalu lama, karena masyarakat dunia maya butuh kecepatan,” ungkapnya.

Sementara nara sumber lain, Ahmad Mustofa, perwakilan dari Akademisi dan Peneliti menyampaikan jika jejak digital yang pernah kita buat atau tulis, tidak akan terhapus. Karena itu, pihaknya meminta semua pihak untuk bijak dalam menggunakan media sosial. “Hati-hati menulis atau berkomentar tentang apa pun didunia maya. Jangan sampai, jempolmu jadi harimaumu,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Shafinaz Nachiar, Key Opinion Leader (KLO) yang sehari-hari sebagai New Anchor RCTI. “Jangan sampai apa yang kita tulis, akan menjadi penghalang kehidupan kita kedepan. Karena apa yang pernah kita tulis didunia maya itu, tidak akan pernah terhapus. Hal ini kami sampaikan, terutama kepada para generasi muda. Saat pemilu, jangan mudah terpengaruh untuk menjadi buzzer hanya karena uang Rp 20 atau Rp 50 ribu. Karena apa yang kita tulis dan ucapkan didunia maya, tidak akan hilang,” ungkapnya.

Dalam webinar yang dimoderatori oleh Dannys Citra itu juga, dihadirkan dua nara sumber lain, yakni Razi Sabardi seorang pengamat kebijakan publik digital dan Annisa Choirlya Muftada, seorang Social Media Communication PT Cipta Manusia Indonesia. (Bag)

BERITA REKOMENDASI