Asal Mengawinkan, Kualitas Kambing Peranakan Etawa Menurun

KAMBING Peranakan Etawa atau Kambing Kaligesing semakin dikenal dan tambah banyak dicari. Harganya pun melambung, jauh di atas kambing lokalan, sehingga peternak semakin diuntungkan. Namun sebagian besar peternak ternyata lupa.

Besarnya keuntungan membuat mereka lalai. Peternak hanya mengejar bagaimana mendapat keturunan yang banyak dan dijual dengan harga mahal.  Tokoh peternak di Desa Tlogoguwo Kaligesing Kabupaten Purworejo, M Sutono mengatakan, peternak mulai tidak memperhatikan asal-usul indukan. "Mereka asal mengawinkan, akhirnya terjadi perkawinan sedarah atau inbreeding," ucapnya kepada KRjogja.com, Kamis (15/9).

Menurutnya, perkawinan sedarah merusak keturunan karena secara genetik masih berasal dari satu induk. Selain itu, tidak pernah ada pencatatan pada setiap perkawinan. Perkawinan sedarah menyebabkan ternak mudah sakit, ukuran badan mengecil dan kemampuan beranak juga kurang. "Tidak ada pencatatan akhirnya ketemu induk jantan kawin dengan anaknya dan kondisi itu banyak terjadi, akhirnya kualitas yang dihasilkan menjadi turun," tegasnya. 

Tidak heran apabila akhir-akhir ini kambing PE kelas B, C dan D semakin banyak dijumpai. Sementara kambing kelas A semakin sulit. Sutono menghitung, pejantan kelas A yang masih memiliki trah Kambing Etawa generasi pertama, tidak lebih dari sepuluh ekor.

Ini Orang Pertama yang Menghasilkan Peranakan Etawa Kaligesing

Peternak kambing PE atau Kambing Kaligesin di Purworejo mulai menyadari turunnya kualitas Kambing PE. Mereka melakukan berbagai pembenahan, mulai dari sektor pakan hingga menghindari perkawinan sedarah. Untuk pakan, kata M Sutono, peternak kambing di Desa Tlogoguwo Kaligesing, mereka mulai memperhatikan kebutuhan nutrisi kambing. Peternak yang sebelumnya gemar memberi pakan daun kaliandra, mulai memperkaya pakan dengan berbagai jenis daun.

Rumput yang awalnya sudah ditinggalkan, mulai diberikan lagi untuk pakan. "Kalau hanya diberi makan kaliandra, kualitas kambing tidak begitu bagus. Berbagai pakan mulai dicoba, bahkan kambing diberi komboran," tuturnya kepada KRjogja.com, Kamis (15/9).

Peternak juga memperhatikan kondisi kandang kambing. Tidak heran sejumlah peternak sukses, membangun kandang hingga menghabiskan dana puluhan juta rupiah. Menurut Sutono, kambing yang dipelihara dalam kandang yang bagus, kualitasnya terlihat bagus juga. Namun ada kendala yang masih sulit diatasi peternak. Mereka tetap belum intensif melakukan pencatatan perkawinan kambing. Kendati demikian, perkawinan sedarah pun mulai dihindari dengan merunut sejarah indukan.

Menurutnya, pemerintah pernah memiliki wacana menerapkan program pencatatan dan sertifikasi kambing. "Namun belum ada realisasinya, butuh keseriusan semua pihak untuk menerapkan kebijakan itu dan saya kira peternak akan siap," ujarnya. (Jas)

Sejarah Peranakan Etawa, Kambing yang Harganya Bisa Ratusan Juta

Ini Cerita Awal Mula Peranakan Etawa Ada di Yogyakarta

Populerkan Peranakan Etawa, Wartono Diajak Kolonial Keliling Jawa

 

BERITA REKOMENDASI