Bahan Baku Industri Farmasi Masih Bergantung Impor

Editor: Ivan Aditya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan negara dengan ‘mega biodiversitas’ yang telah diakui dunia. Keragaman hayati, baik tumbuhan obat maupun hewan, merupakan bahan baku obat tradisional maupun obat modern.

Demikian dikemukakan Menteri Kesehatan Prof Dr dr Nila Djuwita F Moeloek SpM (K) dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI Siswanto saat membuka seminar nasional Tumbuhan Obat Indonesia (TOI) ke-55 yang dilaksanakan Universitas Tidar, bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI, di Grand Artos Hotel and Convention Magelang, Rabu (17/10/2018).

Lebih lanjut dikatakan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional, yang ada di Tawangmangu, melalui studi ecopharmacology telah berhasil mengidentifikasi sekitar 2.850 spesies tumbuhan obat dengan klim secara tradisional yang beragam, diantaranya obat panas, obat batuk obat diare, obat malaria, bahkan juga diklain obat kanker, tumor maupun lainnya.

Klim ini belum tentu tepat secara ilmiah, namun merupakan potensi luar biasa untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat tradisional, baik sebagai jamu, obat herbal berstandar maupun lainnya.

Menkes dalam kesempatan ini juga meminta kepada para peneliti tanaman obat agar lebih kreatif dan inovatif dalam pengembangan tanaman obat Indonesia, sehingga benar-benar menjadi produk obat tradisional maupun obat modern yang dapat dipasarkan dan dimanfaatkan masyarakat secara luas.

“Sebanayk 90 persen bahan baku industri farmasi di Indonesia masih bergantung pada impor. Karena itu para peneliti harus melakukan sinergi akademisi atau peneliti, bisnis atau industri, pemerintah dan masyarakat atau pengguna,” katanya.

Secara terpisah usai acara pembukaan seminar nasional, Siswanto yang didampingi Plt Rektor Universitas Tidar Prof John Hendri Phd dan Ketua Panitia Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke-55 Dr Tri Suwarni Wahyudiningsih SSI MSi mengatakan bahan farmasi Indonesia 90 persen masih impor, khususnya yang terkait bahan-bahan kimia. Untuk mengembangkan bahan obat tidak mudah, diperlukan suatu senyawa-senyawa kimia yang secara spek harus sintetis, artinya speknya merupakan spek obat. (Tha)

BERITA REKOMENDASI