Bahaya Radikalisme Mengancam Kehidupan Masyarakat

Editor: KRjogja/Gus

PURWOREJO (KRjogja.com) – Kondisi geografis Kabupaten Purworejo yang berada di persimpangan budaya telah melahirkan budaya ambigu (tidak jelas). Kondisi ini akan membuat masyarakat mudah terpengaruh dengan budaya luar, termasuk radikalisme yang akan terus merengsek menggerogiti pemahaman budaya di masyarakat.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para ulama dan tokoh agama lain di Purworejo untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat,” kata Pembantu Ketua (Puket) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) An-Nawawi Berjan Purworejo Sahlan MSi, Kamis (7/9).

Dalam rapat koordinasi (Rakor) Pemda, Kemenag, dan MUI di pendapa rumah dinas bupati setempat, Sahlan menjelaskan bahwa dengan posisi geografis ini, lalu lintas manusia banyak yang melintasi Purworejo dari berbagai penjuru, dan memiliki dampak cukup besar, termasuk pendidikan di Purworejo yang sekarang disinyalir banyak guru agama Islam di sekolah yang berafiliansi keras pengaruh Syuriah.

 “Bahkan pada suatu penelitian, ternyata 60 persen lebih para siswa sekolah menengah atas mentokohkan Habib Riziq,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Purworejo H Bambang Sucipto MPdI menilai bahwa berbagai faham yang sudah berkembang di masyarakat dan tidak sesuai dengan budaya setempat, tidak bisa hanya ditangani oleh ulama saja, namun harus ada kerjasama sinergis dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan tokoh lainnya. Karena mereka penyebar paham radikal ini akan bergerak terus. “Jika mereka sudah berhasil maka tujuannya mendirikan negara dalam negara. Mereka mengatasnamakan agama, namun perilakunya tidak mencerminta penganut agama yang sebenarnya,” tandasnya.(Nar)

BERITA REKOMENDASI