Balai Konservasi Monitoring Pembatasan Kunjungan Borobudur

Editor: Ivan Aditya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Balai Konservasi Borobudur (BKBN) selaku UPT di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang bertanggungjawab sebagai site manager Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia, membatasi kunjungan pada teras lantai 9 dan 10 Candi Borobudur untuk kunjungan umum, sunrise dan sunset mulai Kamis (13/02/2020) sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Beberapa tangga menuju ke teras lantai 9 dan 10 juga ditutup, dan pada alat penutup tersebut juga diberi informasi atau tulisan bahwa sedang dilakukan kegiatan monitoring. Beberapa petugas juga diterjunkan untuk berjaga di beberapa titik, diantaranya di lokasi tangga naik ke teras lantai 9 dan 10 yang ditutup.

Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Drs Tri Hartono MHum dan Kepala Seksi Konservasi Balai Konservasi Borobudur Yudi Suhartono MA secara terpisah mengatakan di areal lantai teras 9 dan 10 sementara dilakukan monitoring dan evaluasi, yang tujuannya untukn mengetahui kerusakan di lantai paling utama atau Arupadhatu tersebut. Dari 3 lantai, lantai 9 dan 10 ini merupakan bentuk stupa besar dan tertutup, stupa yang ada lobang segi empat dan stupa berbentuk ketupat.

Berdasar pengamatan yang dilakukan, di lantai ini terjadi kerusakan pada bagian lantainya hampir 30 persen, dan pada bebatuan tangga yang naik mengalami kerusakan hampir 40 persen. Kerusakannya bervariasi, ada yang hanya 1 milimeter, 2 cm, dan bahkan ada yang mencapai 4 cm serta di tempat lain juga ada yang membahayakan pengunjung karena dapat terpeleset.

Untuk kerusakan yang mencapai 30 persen diharapkan tidak bertambah lagi, salah satu cara adalah dengan dibatasi kunjungannya. “Untuk kerusakan yang lain akan diupayakan sebagaimana hasil kajian yang dilakukan BKB beberapa waktu lalu, diantaranya dengan menggunakan tangga dari bahan kayu,” ungkapnya.

Keputusan dilakukan monitoring ini tujuannnya agar bagian yang dinilai paling suci, paling tidak di stupa induk dan Arupadhatunya, dapat lebih terawat. Bila kerusakan-kerusakan ini dibiarkan terus, akan kehilangan suatu warisan nenek moyang yang cukup berarti bagi Bangsa Indonesia. Diharapkan warisan berupa bangunan Candi Borobudur ini dapat tersambungkan atau berkesinambungan hingga generasi yang akan datang.

Tidak hanya pengunjung umum yang dibatasi areal kunjungannya, tetapi juga pengunjung sunrise dan sunset. Dikatakan, pengunjung sunrise yang berada di teras lantai 8, Kamis pagi, selain dapat menikmati pancaran sinar matahari yang baru terbit juga sempat menikmati terjadinya erupsi Gunung Merapi yang terjadi sekitar pukul 05.16. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang mengabadikan kejadian tersebut dengan menggunakan kamera yang dibawanya.

Amanda, salah satu pengunjung Candi Borobudur dari Kota Magelang mengaku memaklumi adanya penutupan tersebut. Ia sudah beberapa kali berkunjung ke Candi Borobudur dan dapat menikmati waktunya kunjungannya hingga sekitat stupa induk di puncak Candi Borobudur dan baru pada kunjungan kali ini ia bisa sampai di teras lantai 8. (Tha)

BERITA TERKAIT