Bangladesh Belajar Tangani Malaria di Purworejo

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Sejumlah dokter dan aktivis kesehatan asal Bangladesh belajar menangani malaria di Kabupaten Purworejo, Rabu – Kamis (25-26/9/2019). Mereka berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo dan mengunjungi lokasi percontohan penanggulangan malaria di Desa Legetan Kecamatan Bener.

Delegasi itu adalah bagian dari Brac, sebuah LSM non pemerintah yang fokus menangani malaria di negara kawasan Asia Selatan itu. Mereka datang didampingi tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan perwakilan World Health Organization (WHO) di Indonesia. "Kami kedatangan tamu dari Bangladesh tentu sebuah kehormatan. Kami persiapkan semua sehingga mereka bisa belajar banyak tentang penanganan malaria di Purworejo," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Purworejo, dr Sudarmi MM, kepada KRJOGJA.com, Kamis (26/9/2019).

Menurutnya, dinkes berdikusi dengan delegasi Bangladesh di Malaria Center Purworejo. Setelah itu, mereka diajak melihat proses indoor residual spraying (IRS) dan pengambilan darah massal apabila terjadi peningkatan kasus di suatu daerah. 

Legetan, lanjutnya, dipilih karena masyarakat dan pemerintah desa peduli dalam menangani malaria. Desa mengalokasikan anggaran Dana Desa (DD) untuk peningkatan kesehatan warga dan masyarakat membuat program Bedah Semak untuk membersihkan kawasan dari sarang nyamuk anopeles. 

Staf Subdit Malaria Kemenkes dr Pranti Sri Mulyani MSc menuturkan, delegasi Bangladesh konsultasi dengan Kemenkes, lalu diarahkan ke Purworejo karena prestasi daerah itu dalam menanggulangi malaria. "Tidak muncul kasus indegeneous atau penularan setempat sejak tahun 2018, artinya eliminasi bisa diraih tahun 2021 atau paling lambat 2022. Purworejo punya strategi dan inovasi penanganan malaria, karena itu kami ajak Bangladesh belajar di sini," ungkapnya.

Menurutnya, inovasi yang bisa dicontoh antara lain strategi pendataan rutin, intensifikasi kegiatan surveilance migrasi dan mengaktifkan Juru Malaria Desa (JMD). "Kolaborasi semuanya dijaga dengan baik dan masyarakat mau peduli, sehingga malaria bisa ditemukan sebelum menulari warga di lingkungannya," paparnya.

Sementara itu, Senior Manager Brac Bangladesh dr Mahmood Abu Saeid mengemukakan, kedatangannya ke Purworejo karena mendengar Indonesia memiliki strategi yang bagus dalam mengeliminasi malaria. Pemangku kebijakan dan masyarakat, lanjutnya, dinilai berhasil menerapkan bagian demi bagian strategi, sehingga berhasil mencegah penyakit itu.

Malaria, kata Mahmood, juga masalah kesehatan nasional di Bangladesh. Penyakit tidak berjangkit di seluruh wilayah, tetapi hanya di beberapa distrik dekat hutan dan perbatasan dengan India. "Organisasi kami punya kegiatan yang banyak dalam penanganan malaria di Bangladesh, maka ilmu dan pengalaman yang didapat di Indonesia akan sangat mendukung program eliminasi di negara kami," tandasnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI