Banjir Turunkan Produksi Gabah 20 Persen di Purworejo

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Bencana banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Purworejo pertengahan Maret 2019, diperkirakan menurunkan produksi gabah 15 hingga 20 persen. Areal sawah seluas 2.154 hektare (ha) dan sekitar 60 persen populasi memasuki usia panen, terdampak bencana tersebut. 

Banjir dilaporkan menggenangi sawah seluas 668 ha di Kecamatan Ngombol, 550 ha Grabag, 226 ha Butuh, 275 ha Purwodadi, 154 ha Banyuurip, 119 ha Bayan, 68 ha Pituruh, 48 ha Kutoarjo, 37 ha Bagelen dan 12 ha Purworejo. Genangan sudah surut dan petani bisa melanjutkan panen. 

Penurunan hasil terjadi karena tanaman padi siap panen roboh akibat arus deras banjir. "Tanaman roboh, maka sebagian bulir ada yang hanyut. Penurunan juga akibat sulitnya proses pemanenan padi roboh," ungkap Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo Ir Eko Anang SW, kepada KRJOGJA.com, Kamis (28/3/2019). 

Selain itu, produksi anjlok karena sebagian gabah yang terendam air mulai tumbuh benih. Gabah tersebut tidak bisa digiling menjadi beras karena mutunya sangat jelek. 

Menurutnya, sebagian petani terpaksa memanen padi lebih awal dari usia seharusnya. "Mereka berburu dengan waktu dan lagi-lagi petani terkendala sulitnya mencari buruh panen karena ada luasnya sawah yang harus dipanen dalam waktu serentak. Akhirnya agar budidaya tidak gagal, petani memilih menegakkan dan mengikat padi sehingga tidak terendam," terangnya. 

Petani Desa Bugel Bagelen Walyoto mengaku kesulitan memanen padi yang roboh akibat banjir luapan Sungai Bogowonto. Ia juga mempercepat panen tiga hari dari jadwal seharusnya. "Kalau tidak cepat dipanen bisa tumbuh tunas dan saya gagal. Ini juga nyicil dikerjakan sendiri karena buruh panen masih mengerjakan sawah petani lain," tuturnya. 

Walyoto menanam padi pada lahan seluas setengah hektare dan seluruhnya roboh kebanjiran. "Kalau banjir sampai naik ke sawah sudah sering, tapi yang waktunya jelang panen baru tiga kali. Kami berharap pemerintah membuat terobosan mencegah banjir, sehingga petani tidak dirugikan," tandasnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI