Belanda Akan Teliti Agresi Militer di Indonesia

Editor: KRjogja/Gus

TEMANGGUNG (KRjogja.com) – Pemerintah Belanda berencana untuk melakukan penelitian tentang penyerangan pasukan Belanda pada Indonesia di tahun 1945 sampai 1949. Namun, pada proyek tersebut, sejauh ini pemerintah RI belum diberitahu.

" Kami dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak diberitahu. Kami belum diajak ngobrol membahas penelitian oleh Pemerintah Belanda," kata Direktur Sejarah  Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI Triana Wulandari, usai mengisi seminar sejarah lokal di Pendopo Pengayoman, Senin (2/10).

Pada seminar yang diselenggarakan Cendekia Mandiri dan Pemkab Temanggung itu juga diluncurkan buku berjudul Penelusuran Sumber Sejarah Kuna di Temanggung, yang ditulis sejarahwan lokal Hendro Martono.

Triana mengatakan alasan pemerintah Belanda tidak melibatkan pemerintah RI karena penelitian itu sebagai penelitian independen, dan merupakan masalah negara Belanda sendiri. Kendati demikian ada dua peneliti Indonesia yang dilibatkan, yakni Bambang Purwanto dari UGM dan Abdul Wahid dari UI. Keterlibatan sejarahwan itu diharapkan penelitian tidak subyektif.

Dikatakan Pemerintah RI juga mengajukan keberatan untuk penelitian yang dianggarkan sejumlah 4,1 juta euro atau sekitar Rp 65 miliar untuk penelitian dalam rentang 4 tahun tersebut. Pihaknya juga belum akan melakukan tindakan apa-apa.

"Tetapi untuk penelitian membutuhkan segala macam perijinan, sehingga nanti harus melibatkan pemerintah," katanya.

Mengenai rencana pembangunan jembatan progo yang telah menjadi cagar budaya oleh pemerintah setempat, Triana mengatakan ada aturan dalam UU Cagar Budaya, yakni tidak boleh menghilangkan keasliannya, dan jika dibongkar bentuknya harus sama persis. "Aturan sudah ada di UU CB, Pemerintah harus mematuhinya," katanya.

Wakil Bupati Irawan Prasetyadi mengatakan anak-anak Temanggung wajib mengetahui sejarah lokal dan mengenal situs sebab terdapat nilai kearifan lokal didalamnya. "Mengetahui sejarah itu penting, agar tidak salah melangkah," katanya.

Dikatakan guru terutama guru sejarah di Temanggung untuk membaca buku yang diluncurkan tersebut dan mengajarkannya pada anak-anak. Selain itu guru harus pula menulis tentang sejarah lokal, untuk diwariskan pada generasi muda. (Osy)

 

 

BERITA REKOMENDASI