Berkat TMMD Reguler Kodim Wonosobo, Darsini Tak Numpang Mandi di Rumah Tetangga Lagi

Editor: Ivan Aditya

Sudah lama Darsini (60) mendambakan bisa memiliki kamar mandi di rumahnya. Tak perlu mewah, asal ada air bersih mengalir dan jamban sehat saja itu sudah cukup baginya. Dengan memiliki kamar mandi sendiri setidaknya Darsini bisa mencukupi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) tanpa harus tergantung orang lain. Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-100 yang dilaksanakan Kodim 0707 Wonosobo mewujudkan harapan Darsini itu. Satu unit kamar mandi dibangun untuk Darsini sehingga janda tua itu kini tak perlu mandi menumpang di rumah tetangga lagi.

Selama ini Darsini memang tak memiliki kamar mandi sendiri untuk menunjang kebutuhan dasar hidupnya. Setiap hari ia terpaksa harus memenuhi keperluan MCK dengan menumpang di kamar mandi milik tetangga samping rumahnya. Maklum saja, nenek dua orang cucu ini tergolong warga miskin di Dusun Dempel, Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng).

Sebagai buruh pemecah batu di lereng Gunung Sindoro dengan pendapatan tidak lebih dari Rp 500.000 perbulan, membuat Darsini tak punya banyak pilihan untuk bisa membangun kamar mandi atau setidaknya jamban sederhana. Satu-satunya harta peninggalan suaminya yang telah meninggal dunia setahun lalu itu hanyalah sebuah rumah kecil berdinding kayu berukuran sekitar 7 meter x 6 meter.

Hidup serba kekurangan tanpa jamban dan menumpang mandi di WC milik tetangga ini sudah dijalani Darsini sejak lebih dari sepuluh tahun lalu. Sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan MCK, Darsini bahkan harus menuju ke mata air yang jaraknya sekitar 1 km dari rumahnya dan berbagi air bersama warga Pagerejo lainnya.

Menumpang di kamar mandi tetangga tentunya tak bisa bebas seperti raja di rumah sendiri. Walau tak dipungut biaya, namun Darsini tetap harus bergantian dalam menggunakan kamar mandi tersebut bersama pemilik rumah dan keluarganya.

Terkadang ingin rasanya Darsini yang tinggal sebatangkara di rumah itu memulai aktivitasnya seperti mencuci baju atau piring lebih awal. Namun karena tetanga pemilik kamar mandi belum bangun maka terpaksa ia harus menunggu hingga pagi tiba.

Itu saja ia masih harus antre paling akhir untuk dapat menggunakan kamar mandi tersebut. Setelah seluruh anggota keluarga selesai menggunakan kamar mandi, barulah giliran Darsini bisa memanfaatkan tempat itu.

Itu juga yang dirasakannya ketika harus pulang dari memecah batu saat waktu sudah larut. Darsini terpaksa tak bisa merasakan segarnya air sore hari karena pintu rumah tetangga sudah keburu tertutup rapat hingga ia pun harus tidur malam tanpa mandi.

“Namanya juga menumpang di tempat tetangga, tentunya kita harus menyesuaikan pemilik rumah. Walau sudah diperbolehkan namun tetap saja kita juga tidak bisa semaunya sendiri,” ungkapnya.

Darsini janda warga Pagerejo yang tak memiliki kamar mandi

Penderitaan Darsini berakhir saat Kodim 0707 Wonosobo memilih Desa Pagerejo sebagai lokasi diadakannya TMMD Reguler ke-100. Janda satu orang anak ini termasuk salah seorang diantara 19 warga lainnya yang bakal memiliki kamar mandi dalam program jambanisasi TMMD Reguler ke-100.

Sejak hari pertama dimulainya TMMD Reguler ke-100 Kodim 0707 Wonosobo pada 27 September 2017, puluhan prajurit bersama masyarakat langsung membangun jamban dan kamar mandi untuk Darsini. Tanpa mengenal lelah prajurit dibantu warga bahu-membahu terus menggali tanah dan berkubang dengan lumpur bersama.

Untuk menciptakan jamban sehat, septic tank dibuat oleh prajurit di samping rumah Darsini agar limbah pembuangan dari jamban kamar mandi tak mencemari lingkungan sekitar. Tak ketinggalan kloset duduk dan bak air juga melengkapi kamar mandi berukuran 2 meter x 2 meter itu.

Sekitar enam hari pembuatan jamban dan kamar mandi di rumah Darsini usai, prajurit bersama warga tanpa dikomando segera bergeser menuju sasaran lokasi lain untuk pembangunan berikutnya. Semuanya dilakukan secara bergotong-royong agar dapat menyelesaikan seluruh target pembangunan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Hampir selama 30 hari program jambanisasi ini selesai dilaksanakan, hingga tanpa terasa sebanyak 20 jamban berhasil dirampungkan seiring dengan usainya program TMMD Reguler ke-100 yang dilaksanakan Kodim 0707 Wonosobo pada 26 Oktober 2017. Para prajurit ditarik kembali ke barak meninggalkan hasil pembangunan yang telah tercapai selama sebulan serta pesan kemanunggalan antara TNI dan rakyat bagi warga Desa Pagerejo.

Darsini kini telah memiliki kamar mandi sendiri hingga tak perlu menumpang di tampat tetangga. Satu unit kamar mandi berdinding batako lengkap dengan jamban dan sarana sanitasi telah dibangun. Untuk kebutuhan air bersih para prajurit mengalirkan sumber mata air di lereng Gunung Sindoro menggunakan pipa paralon menuju ke kamar mandi rumah Darsini.

“Terimakasih kepada bapak tentara yang sudah membuat jamban kamar mandi untuk saya. Sekarang saya memiliki kamar mandi sendiri dan tidak perlu perlu menumpang mandi di rumah tetangga,” kata Darsini.

TMMD Menyasar Desa Pra Sejahtera

TMMD Reguler ke-100 untuk wilayah Korem 072 Pamungkas dipusatkan di Kodim 0707 Wonosobo. Dari 236 desa yang ada di kabupaten ini, dipilihlah Pagerejo sebagai lokasi dilaksanakannya program TMMD Reguler ke-100.

Masih banyaknya warga Desa Pagerejo yang belum memiliki kamar mandi, merupakan salah satu alasan mengapa program yang dahulu bernama ABRI Masuk Desa (AMD) tersebut diadakan di wilayah ini. Selain itu Pagerejo yang masih tergolong sebagai desa pra sejahtera juga menjadi pemicu semangat prajurit untuk melakukan ‘serbuan teritorial’ guna menggerakkan masyarakat guna melakukan pembangunan wilayah desa bersama TNI.

Ditegaskan Komandan Kodim (Dandim) 0707 Wonosobo, Letkol (Czi) Dwi Hariyono yang juga selaku Komandan Satgas (Dansatgas) TMMD Reguler ke-100 di Wonosobo, TNI hadir untuk mengatasi permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Sebagai prajurit, TNI memiliki tanggungjawab besar untuk turut serta mendukung program pemerintah dalam menyehatkan masyarakat.

“Masih banyak warga Pagerejo yang belum menerapkan pola hidup sehat, salah satunya terlihat dari tak memiliki jamban di rumah masing-masing. Karena hal itulah maka program jambanisasi menjadi salah satu fokus sasaran kami dalam TMMD Reguler ke-100 Kodim 0707 Wonosobo ini,” jelas Dwi Hariyono.

Prajurit bersama warga membangun kamar mandi untuk Darsini

Dengan program jambanisasi ini prajurit ingin mengajak masyarakat Desa Pagerejo untuk memulai hidup dengan cara yang lebih sehat. Menurut Dwi Hariyono, berawal dari kesehatan maka taraf kehidupan warga akan meningkat sehingga masyarakat dapat lebih sejahtera.

Selain pembuatan 20 jamban, dalam TMMD Reguler ke-100 Kodim Wonosobo ini para parajurit juga mengerjakan beberapa pembangunan fisik lainnya seperti pembuatan jalur evakuasi dari bahaya erupsi Gunung Sindoro sepanjang 757 meter yang menghubungkan tiga dusun yakni Pagersampang, Dempel dan Gemawang, pembangunan gorong-gorong di 4 lokasi serta pembuatan talud untuk mengantisipasi bencana tanah longsor. Turut dibangun pula pada program ini 2 pos kamling, 2 mushola serta rehab 7 unit rumah warga.

Sedangkan untuk sasaran non fisik dilaksanakan penyuluhan mulai dari bela negara, kamtibmas hingga penuntasan wajib belajar pendidikan dasar. Berbagai pelatihan juga dilakukan seperti budidaya ikan, pembuatan pakan, pengolahan sampah, pemanfaatan pekarangan dan sanitasi lingkungan. Bersama dinas terkait, jajaran Kodim 0707 Wonosobo mengadakan pelayanan kepengurusan catatan sipil, perpustakaan keliling, pelayanan KB serta penyerahan bantuan kursi bagi kaum difabel.

Dwi Hariyono berharap apa yang dilakukan para prajurit dalam TMMD Reguler ke-100 Kodim Wonosobo ini dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk melakukan pembangunan di daerah. Selain itu, nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong yang selama pelaksanaan TMMD Reguler ke-100 dilakukan bersama prajurit dapat terus terbina dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

“Hasil pembangunan yang telah dicapai hendaknya dapat dirawat dengan baik untuk kepentingan bersama. Semangat kebersamaan antar masyarakat dan prajurit yang telah terjalin selama TMMD Reguler-100 juga harus selalu terbina dalam rangka untuk membangun persatuan bangsa,” tegasnya.

Prajurit Manunggal Bersama Rakyat

Dwi Hariyono menegaskan TMMD dapat berlangsung karena adanya peran serta dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah setempat, dinas terkait, Kepolisian hingga masyarakat. Semua sektor sengaja dilibatkan dalam suksesnya program ini untuk mewujudkan semangat kemanunggalan TNI bersama rakyat.

“TNI tak akan ada artinya tanpa peranserta dari masyarakat. Melalui TMMD ini pesan yang ingin disampaikan yakni TNI mengajak rakyat untuk terus manunggal bersama prajurit,” tegasnya.

Sebagai bagian dari tugas pokok TNI dalam rangka melakukan operasi militer selain perang (OMSP) seperti yang tercantum dalam Undang-undang nomor 34 tahun 2004, misi besar TMMD yakni membentuk kemanunggalan TNI dengan rakyat. Hal tersebut dilakukan guna mendukung terciptanya sistem pertahanan semesta (sishanta) yang kuat di negeri ini.

Sistem pertahanan tersebut bisa tercipta karena TNI selalu ada dan dekat bersama rakyat. Keberhasilan TNI dalam menggalang persatuan inilah yang kemudian menghasilkan sebuah kekuatan teritorial, sehingga jika sewaktu-waktu negara dalam kondisi darurat maka rakyat siap berjuang membela bangsa bersama prajurit. Kekuatan teritorial inilah yang telah diakui dunia internasional dan membuat bangsa lain segan terhadap lndonesia. (Ivan Aditya)

BERITA REKOMENDASI