Brikoka, Terobosan UMP Kembangkan ‘Si Emas Hijau’ di Purworejo

Editor: KRjogja/Gus

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Budidaya vanili pernah menjadi tren di Kabupaten Purworejo. Harga mahal dan stabil menjadi alasan petani untuk menanam komoditas itu. Namun selama bertahun-tahun vanili dibudidayakan dalam hutan atau kebun yang lokasinya cukup jauh dari rumah.

Tipikal tanaman vanili yang merambat dan asupan makanan dari pohon inang membuat masyarakat menanamnya dalam hutan. Vanili juga butuh ayoman dan tidak bisa dibudidayakan pada lahan terbuka. Ranting dan daun pohon inang menjadi pelindung, sehingga tanaman bisa terus hidup, berbunga dan berbuah.

Namun ada kendala dari budidaya tanaman tersebut. Lokasi kebun yang jauh dari rumah petani menyulitkan budidaya. Tanaman itu tidak bisa melakukan penyerbukan sendiri dan harus dibantu manusia. "Tentunya butuh waktu lama untuk menjangkau penyerbukan seluruh tanaman. Apalagi kalau dirambatkan di pohon, petani susah menjangkau bunga yang letaknya di ketinggian," ungkap Ketua Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) – Kemenristekdikti 2019, Jeki Wibawanti MEng MSi, kepada KRJOGJA.com, Rabu (14/8).

Kendala lain adalah soal keamanan. Harga vanili yang selangit, bahkan bisa mencapai Rp 550 ribu perkilogram, menggiurkan bagi orang-orang tak bertanggung jawab. Vanili menjadi sasaran pencuri. Para pelaku kejahatan itu tidak pilih-pilih dalam beraksi. Bahkan untuk mempercepat aksinya, mereka menebas habis tanaman dan mengangkut buah, daun dan batang sekaligus. Petani gagal panen, tanaman juga mati karena batang utamanya terpotong.

Kondisi tersebut akhirnya meredupkan semangat petani membudidayakan komoditas yang dikenal sebagai emas hijau itu. "Melihat fakta itu, kami memikirkan terobosan bagaimana mendekatkan budidaya dengan petaninya," ujarnya.

Penelitian tim PKM UMP-Kemenristekdikti dengan sasaran petani di Desa Jelok Kecamatan Kaligesing menyimpulkan jika vanili bisa dibudidayakan di sekitar rumah. Bahkan tanpa melibatkan pohon besar sebagai tanaman inang. Peran pohon inang harus diganti dengan material yang bisa menyuplai nutrisi bagi vanili. Sementara untuk mengurangi intensitas sinar matahari, digunakn material pabrik seperti jaring paranet. "Vanili bisa ditanam menggunakan 'planter bag' atau pot besar, lalu dirambatkan pada tiang berisi nutrisi," terangnya.

Tim melihat kotoran kambing bisa dijadikan sumber nutrisi vanili. Jumlahnya juga melimpah di Kecamatan Kaligesing. Kotoran kambing jarang diolah dan selama ini hanya ditebar begitu saja di kebun sebagai pupuk kandang.

Tiang panjat menggunakan pipa paralon yang dilubangi di setiap sisi. Namun kotoran kambing tidak asal dimasukkan ke dalam pipa tersebut. Tim bersama masyarakat Desa Jelok mengolah kotoran itu menjadi Brikoka atau briket kotoran kambing. "Brikoka adalah kotoran yang difermentasi jadi pupuk organik, lalu dihaluskan, dipres hingga keras baru dikeringkan. Bentuknya seperti arang," tuturnya.

Brikoka lebih awet dibanding kotoran tanpa diolah karena nutrisinya lebih lengkap setelah adanya proses fermentasi. Penggunaan Brikoka diyakini juga dapat mengurangi risiko kematian tanaman akibat penyakit busuk batang.

Penyakit itu menyebabkan pangkal batang utama busuk dan putus. Vanili hanya mendapat asupan nutrisi dari pohon inang. "Ada dua risiko, vanili mati jika nutrisi tidak tercukupi atau gagal berbunga. Petani biasanya memangkas vanili untuk melindungi pohon inang," paparnya.

Apabila menggunakan Brikoka, akar gantung vanili masih bisa mendapat nutrisi secara lengkap. "Harapan kami, metode itu akan berhasil. Nutrisi Brikoka sangat lengkap dan tanaman mampu tumbuh tanpa batang utama jika kebutuhan makannya tercukupi," ucapnya.

Anggota PKM UMP-Kemenristekdikti Lukman Fadhiliya menambahkan, tim dan masyarakat mengaplikasikan Brikoka untuk 50 'planter bag' vanili. Tanaman ditata pada kebun di belakang rumah petani seluas kurang lebih 4 x 10 meter.

Lahan budidaya dilindungi dengan jaring paranet. "Tanaman tumbuh subur, akar gantung mulai muncul dan masuk pipa lewat lubang yang dibuat. Dalam pipa sudah ada ratusan blok Brikoka," ujarnya.

Lukman menyebut budidaya vanili di belakang rumah lebih efektif dan aman. Petani lebih mudah merawat tanaman, mulai penyiraman, penyerbukan hingga panen. Tanaman vanili juga terawasi dengan baik. "Brikoka bakal merekatkan budidaya vanili dengan petani. Bayangkan jika satu tanaman hasilkan 0,4 kilogram vanili kering, petani pasti semakin sejahtera," tandasnya. (Jas)

 

 

BERITA REKOMENDASI