Bupati Purworejo: Sinergi Kebijakan Ekonomi dan Kesehatan Pulihkan Dampak Pandemi

Editor: KRjogja/Gus

EMPAT Bulan sudah pandemi berdampak signifikan pada masyarakat Purworejo. Tepatnya, setelah Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM menetapkan status tanggap darurat Covid-19 pada akhir Maret 2020, lalu disusul kasus terkonfirmasi pertama awal April. Sejak itu, fokus pemerintah ada pada penanganan pasien, sekaligus mencegah jangan sampai pandemi meluas.

Perekonomian di Purworejo pelan-pelan mengalami kontraksi, terutama setelah ditutupnya sejumlah fasilitas publik, objek wisata, dan aktivitas yang menimbulkan kerumunan. Situasi itu pelan berubah seiring dicabutnya masa tanggap darurat pada awal Juni 2020, setelah beberapa minggu tidak muncul kasus baru dan sebagian besar pasien dinyatakan sembuh. Perekonomian mulai bergeliat, meski tetap tidak bisa normal seperti sebelum pandemi. Pemkab dan pelaku usaha tetap memperhitungkan ancaman gelombang kedua serangan Covid-19. “Tetap tidak bisa gegabah, ekonomi harus bergerak, tetapi selalu waspada mengingat virus corona masih ada di sekitar kita,” tutur Agus Bastian, kepada KROGJA.com, Jumat (14/8).

Pemkab membuat aneka terobosan, yakni menyinergikan kebijakan ekonomi dengan kesehatan. Penanganan dua sektor itu, kata Bupati, harus berjalan beriringan. “Perekonomian harus bergerak mengingat dari sana sumber penghasilan masyarakat Purworejo,” katanya.

Pelaku UMKM menjadi salah satu fokus pemerintah. Pemkab berencana memberikan bansos Jaring Pengaman Ekonomi (JPE) bersumber dari APBD kabupaten tahun anggaran 2020.

Sebanyak 1.125 pelaku usaha kecil dan menengah terverifikasi sebagai calon penerima bansos. Pemkab tengah menyelesaikan pembuatan rekening calon penerima bantuan.

Pemkab juga bekerjasama dengan Dinas KUKM Provinsi Jawa Tengah dalam usaha memasukkan produk usaha kecil Purworejo agar bisa masuk dan dijual galeri UMKM di Bandara Internasional Yogyakarta (BIY). Sebanyak 91 produk sedang masuk tahap kurasi.

Selain itu, pemulihan ekonomi selama pandemi tidak hanya dilakukan pemkab. Gubernur Jateng bahkan mengorder 100.600 masker dari 44 pelaku UMKM di Kabupaten Purworejo, dengan harga satuan Rp 4.000. Pemprov juga mengalokasikan bansos JPE dalam bentuk bahan baku kepada 315 pelaku UMKM olahan makanan di Purworejo.

Sementara itu, Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti SH menambahkan pemkab terus menggencarkan penelusuran kontak erat pasien terkonfirmasi Covid-19 guna mempersempit penularan virus. Total warga terkonfirmasi Covid-19 sejak kasus pertama hingga Jumat (14/8), tercatat 243 jiwa. “Kami prihatin, turut berduka cita karena ada enam pasien yang wafat, karena adanya faktor komorbid atau penyakit penyerta,” ungkapnya.

Kendati demikian, lanjut Yuli, upaya pengendalian pandemi membutuhkan peran dan konsistensi masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan. Pandemi akan sulit dikendalikan apabila masyarakat tidak mematuhi anjuran memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin, dan jaga jarak dengan orang lain. “Kami terus sosialisasikan ‘new habit’ atau adaptasi kebiasaan baru dan melakukan penegakan aturan oleh Satpol PP. Harapannya masyarakat betul-betul teredukasi dan menerapkan protokol kesehatan,” ucapnya.

Yuli menegaskan, pemkab akan terus menyinergikan kebijakan sektor ekonomi dengan kesehatan untuk memulihkan dampak pandemi. Wakil bupati juga mengajak masyarakat untuk mengintensifkan pelaksanaan program Jogo Tonggo Covid-19 di tiap desa dan kelurahan. “Pemkab akan memastikan perpaduan kebijakan dua sektor itu berjalan baik, demi menjaga ketahanan ekonomi dan kesehatan masyarakat. Tetapi saya juga minta masyarakat tetap semangat dan patuhi protokol kesehatan,” tandasnya.(Jas)

 

BERITA REKOMENDASI