Butuh Bantuan, Gemilang Derita Hidrocepalus Sejak Lahir

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Gemilang Jiwanara (2 bulan) balita di RT 02 RW 01 Kampung Senepo Timur Kelurahan/Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo menderita hidrocepalus sejak lahir. Anak pasangan Galih Jiwa Syuhada (31) dan Nita Maryanti (26) menjalani terapi alternatif karena keterbatasan biaya dan kondisi fisik lemah pasca melahirkan. 

Nita Maryanti mengatakan, anak ketiganya itu sudah sakit sejak dalam kandungan. "Gemilang lahir pada usia kandungan sekitar sepuluh bulan. Ketika dilakukan USG jelang kelahiran, dokter mengatakan ada kelainan pada kepalanya," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Kamis (28/3/2019). 

Proses kelahiran Gemilang dilakukan dengan operasi di RSUD Dr Tjitrowardoyo Purworejo. Ketika dilahirkan, ukuran lingkar kepalanya 39 centimeter, lebih besar dari bayi normal. Nita melihat ada pembengkakan pada kepala bagian belakang. 

Dokter, lanjutnya, memberi rujukan kepada Nita untuk membawa anaknya menjalani pengobatan di RSUP Dr Sarjito Yogyakarta. Namun karena keterbatasan tenaga, keuangan dan tidak ada kerabat yang mendampingi, pengobatan ditunda. "Karena itu saya sementara pilih alternatif. Apalagi Gemilang saat baru lahir juga belum dibuatkan BPJS," katanya. 

Selama proses terapi, lingkar kepala Gemilang terus membesar. Setiap minggu bertambah kuang lebih dua centimeter dan terakhir diukur, lingkar kepala mencapai 53 centi. "Alhamdulillah kondisi Gemilang sehat, anaknya juga aktif, hanya sering rewel mungkin karena tidak nyaman," terangnya. 

Hampir dua bulan menunggu, akhirnya Gemilang terdaftar dalam BPJS dan pemerintah membiayai perawatannya. Namun keluarga itu terkendala perekonomian karena proses berobat juga butuh biasa. "Kemarin saja sekali berangkat ke Yogyakarta, keluar biaya satu juta rupiah lebih untuk sewa kendaraan dan lainnya. Kami masih bingung membayangkan biaya ketika kelak Gemilang menjalani perawatan dalam waktu lama, meski kami juga bertekad berusaha maksimal demi kesembuhannya," paparnya. 

Nita merupakan ibu rumah tangga, sedangkan Galih bekerja sebagai buruh di SPBU daerah Kutoarjo. Keluarga itu tidak memiliki tempat tinggal dan menumpang di rumah kosong kerabatnya di Senepo. "Tidak perlu bayar sewa namun diminta membantu merawat ruah itu," tandasnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI