Cangkul Lokal Lebih Oke Ketimbang Impor

TEMANGGUNG (KRjogja.com) – Ketika isu impor cangkul ramai, sebenarnya cangkul atau alat pertanian manual impor dari China (Taiwan) itu  sudah dikenal oleh para pedagang alat pertanian (cangkul) di Temanggung sudah sejak lama. Tetapi, cangkul asal Taiwan tersebut kalah bersaing dengan pacul lokal, sebab kurang sesuai digunakan di daerah ini.

"Beberapa tahun silam, penjual cangkul sudah mengenal, bahkan menjual cangkul impor. Tetapi, sekarang malah sulit ditemukan cangkul impor dari Taiwan itu. Yang ditemukan justru cangkul produksi pabrikan dalam negeri, serta cangkul dari pengrajin lokal," ujar salah seorang penjual alat-alat pertanian manual di pasar Kliwon, Temanggung, YL Suwarno (64), Selasa (01/11/2016).

Hal senada juga diungkap oleh Slamet (30), penjual alat pertanian manual di pasar Legi Parakan. Suwarno menyatakan, kurang lakunya cangkul impor tersebut dikarenakan bentuknya tidak sesuai dengan kondisi geografis di darrah pegunungan sebab modelnya lebuh tipis dan ukurannya kecil.

Selain itu, kata Suwarno, cangkul impor dinilai kurang tajam sehingga untuk mencangkul tak menghasilkan cangkulan dalam. Berbeda dengan cangkul produk lokal, yang bisa digunakan untuk mencangkul tanah hasilnya lebih dalam serta lebih tajam. Ia menyebutkan, bentuk cangkul antar daerah saja sudah beda, apalagi impor.

Dikatakan, model cangkul jawa tengah bagian barat memiliki gagang (doran) lebih panjang. Sedangkan cangkul di daerah Temanggung, gagangnya  pendek. Harganya pun hampir sama antara cangkul lokal dengan cangkul impor, yakni berkisar antar Rp 90.000/unit hingga Rp 250.000/unit. (Mud)

BERITA REKOMENDASI