Cari Sumber Air Baku, Kebumen Gunakan Metode Geolistrik

Editor: KRjogja/Gus

KEBUMEN KRJOGJA.com – Karena pembiayaannya lebih murah dibandingkan dengan metode lain, metode geolistrik akhirnya dipilih oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen dalam program pencarian sumber air baku baru di sejumlah desa di kawasan pegunungan Kebumen.

"Dibandingkan metode sumur uji misalnya, metode geolistrik hanya membutuhkan  anggaran Rp 50 juta per unit, jauh lebih murah dibanding metode sumur uji yang membutuhkan anggaran hingga Rp 800 juta per unit," ujar Kabid Sumber Daya Air Dinas pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kebumen, Supangat SSos, di ruang kerjanya, Senin (28/05/2018).

Guna mengatasi kesulitan air bersih selama musim kemarau di sejumlah desa kawasan pegunungan di Kebumen, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen mulai tahun 2018 melakukan pencarian sumber air baku baru. Dengan pertimbangan  penghematan anggaran, maka dipilihlah metode geolistrik dalam pencariannya. 

"Sebagai tahap awal dalam program ini kami memilih 4 desa di pegunungan sebagai lokasi kegiatan. Yaitu, Banjarharjo Kecamatan Ayah, Kalirejo Kecamatan Karanggayam, Sadang Kulon Kecamatan Sadang dan Kalisana Kecamatan Karangsambung," ujar Supangat.

Pencarian sumber air baku dengan geolistrik tersebut dilakukan dengan pengeboran kedalam tanah sedalam 80 sampai 100 meter. Pengeboran akan pada Juli 2018 mendatang setelah dilakukan survey terhadap lokasi-lokasi yang dipastikan memiliki sumber air di bawah tanah. Di sejumlah daerah menurut Supangat metode geolistrik telah berhasil digunakan sebagai metode pencarian sumber air baku. Hasilnya, mampu efektif menemukan sumber air yang jauh berada di bawah  permukaan tanah.

"Namun sistem ini memiliki kekurangan, yaitu tak bisa mengukur potensi air  rembesan di sekitar titik pengeboran. Dengan demikian, kita tak bisa mengetahui berapa lama sumber air ini bisa dimanfaatkan oleh warga," ujar Supangat. (Dwi)

BERITA REKOMENDASI