Cuaca Ekstrim, Tingkat Kematian Unggas Tinggi

Editor: Ivan Aditya

KEBUMEN (KRJOGJA.com) – Munculnya cuaca ekstrim berupa suhu udara yang jauh lebih dingin dibanding suhu udara normal, sejak awal Juli 2017, menyebabkan banyak ternak unggas di Kebumen yang jatuh sakit kemudian mati.

"Dengan munculnya kondisi cuaca ekstrim seperti ini banyak ternak unggas yang dipiara petani jatuh sakit. Bahkan, banyak unggas yang saat dibawa ke sini terlihat sehat, namun tak berselang lama setelah sampai di sini jatuh sakit dan banyak yang lalu mati. Kemungkinan unggas tersebut sejak di tempatnya dipiara sudah mengidap virus penyebab sakit," ungkap Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Unggas 'Tamanharjo' Kebumen, Sugito di lapaknya, Senin (10/07/2017).

Menurut Sugito, berdasarkan pencermatannya sejak munculnya cuaca  ekstrim atau dalam istilah Jawa dikenal sebagai musim 'bediding' tingkat kematian unggas di Pasar Unggas Tamanharjo sejak awal Juli 2017 hingga Senin (10/07/2017), mencapai 50 % dari jumlah unggas yang diperjualbelikan di pasar ini.

"Semua jenis unggas yang diperjualbelikan di sini yaitu ayam, entok, bebek maupun burung merpati tak ada yang terhindar dari serangan sakit akibat musim 'bediding' ini. Kalau dihitung, sekitar 50 % dari jumlah unggas yang dipasok ke sini jatuh sakit dan banyak yang lalu mati," ujar Sugito.

Sulitnya menyediakan unggas yang benar-benar terjamin kesehatannya  di tengah kondisi cuaca ekstrim, padahal permintaan pasar terhadap unggas pasca Lebaran 2017 masih tinggi menyebabkan harga unggas di pasar ini sampai Senin (10/07/2017) masih tinggi dan tak jauh berbeda dibandingkan harga unggas menjelang hari H Lebaran lalu.

"Seperti ayam kampung betina dewasa harganya masih berkisar antara Rp 120 ribu sampai Rp 130 ribu per ekor dan ayam kampung remaja Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu per ekor," jelas Sugito. (Dwi)

BERITA REKOMENDASI