Dampak Kemarau Panjang, Pengemis Marak di Kebumen

Editor: KRjogja/Gus

KEBUMEN, KRJOGJA.com – Jumlah pengemis atau PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) di Kebumen akhir-akhir ini ditengarai meningkat. Peningkatan tersebut diduga kuat akibat masih berlanjutnya kesulitan ekonomi warga masyarakat, khususnya para buruh tani, yang terdampak musim kemarau panjang yang lalu dan masih minimnya aktifitas di lahan pertanian.

" Tentang dugaan meningkatnya jumlah pengemis atau PMKS di Kebumen  akhir-akhir ini, masih harus kami teliti lebih lanjut. Namun kami sudah melakukan kajian tentang sulitnya ekonomi masyarakat yang  terdampak kemarau panjang dan belum maraknya aktifitas di sektor  pertanian," ujar Sekretaris Dinas Sosial  Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kebumen, Kinanto SIP, di ruang  kerjanya, Jum'at (17/01/2020).

Tentang dugaan bahwa dampak kemarau panjang dan minimnya aktifitas sektor pertanian memunculkan paceklik dan kesulitan ekonomi bagi  para buruh tani di desa-desa berbasis pertanian di Kebumen, menurut Kinanto merupakan analisa yang bisa dipahami.

" Antisipasi yang akan kami lakukan adalah berupa program  penanggulangan kemiskinan (gulkin), berupa bantuan pangan non tunai," ujar Kinanto.

Bentuk bantuan pangan non tunai yang akan diluncurkan Dinsos PPKB  Kebumen tersebut hingga Jum'at (17/01/2020) masih dimatangkan persiapannya. Namun Kinanto belum bisa mengungkapkan berapa dana yang akan digunakan untuk kegiatan tersebut.

Tentang awal mula munculnya dugaan peningkatan jumlah PMKS di Kebumen tersebut diantaranya berasal dari informasi sejumlah pedagang di Pasar  Tumenggungan dan pemilik toko di kota Kebumen. Para pedagang tersebut  mengeluhkan banyaknya pengemis yang beroperasi di Pasar Tumenggungan  dan di toko-toko Kebumen, akhir-akhir ini.

" Saat ditanya, sebagian pengemis berterus terang bahwa kondisi paceklik di desanyalah yang menyebabkan ia terpaksa harus mengemis,"  ujar Kinanto. (Dwi)

BERITA REKOMENDASI