DBD Renggut Satu Nyawa di Temanggung

Editor: KRjogja/Gus

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Seorang warga, Luhur (28) warga Margorejo Kecamatan Temanggung meninggal diduga akibat serangan demam berdarah dengue (DBD) setelah beberapa saat dirawat di sebuah Rumah Sakit swasta di Yogyakarta. Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung masih menelusuri kasus kematian itu, jika akibat DBD maka itu merupakan kasus pertama di awal tahun 2019.

"Kami masih menyelidiki kasus itu, sebab penderita juga sakit tumor otak," kata Kasi Penanggulangan Wabah dan KLB Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung, Sri Hartati, Jumat (18/1).

Dia mengatakan Luhur sempat dirawat beberapa hari di RSUD Temanggung, untuk selanjutnya dirujuk ke RS JIH Yogyakarta. Deteksi awal memang menyerupai DBD tetapi berdasar pemeriksaan dokter, ia juga menderita tumor otak. " Sehingga kami harus hati-hati, jika betul karena DBD maka ini kasus pertama di 2019," katanya.   

Dikemukakan Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung mengingatkan pada warga untuk mewaspadai serangan demam berdarah dengue (DBD) yang serangannya meningkat pada musim hujan. Berdasar catatan, setidaknya ada 11 warga yang sudah terkena. Penyakit ini bisa mengakibatkan kematian jika tidak lekas tertangani.

"Kami ingatkan warga untuk waspada nyamuk aides aegipthy. Serangan ini dapat mengakibatkan kematian," katanya. 

Dia mengatakan dari awal tahun hingga pertengahan Januari, terdapat 12 kasus DBD di Kabupaten Temanggung, ini belum termasuk yang Luhur. Sejauh ini tidak ada laporan hingga meninggal dunia. Warga yang terserang mendapat pengobatan dan perawatan intensif di rumah sakit dan berhasil disembuhkan, namun sejumlah penderita masih dalam perawatan.

Dikatakan daerah yang mendapat serangan DBD diantaranya kelurahan Temanggung II, Kowangan, Jampirejo, Munseng dan Lungge. Selain itu di Kedu, Kranggan, Gemawang dan Ngadirejo. Lingkungan temuan DBD, kini dalam pengawasan Dinkes Temanggung terutama daerah yang dinilai masih potensial muncul kembali DBD. "Daerah itu termasuk yang terdapat demam degue (DD), gejala DD sama," katanya.

Dia menyampaikan Dinkes Temanggung mengutamakan 3 M dalam pemberantasan nyamuk aedes aegipthy. Langkah tersebut dinilai lebih baik dibanding pengasapan yang jika tidak tertangani dengan baik menyebabkan kekebalan pada nyamuk, selain memang tidak dapat membunuh telur nyamuk.

" Kami minta warga untuk meningkatkan kewaspadaan lingkungan, jangan sampai ada DBD, yang biasanya marak di musim hujan," katanya. (Osy)

BERITA REKOMENDASI