Dirjen Kebudayaan Lakukan Penyemprotan Perdana Minyak Atsiri

Editor: Agus Sigit

MAGELANG, KRJogja.com – Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Hilmar Farid melakukan penyemprotan perdana minyak atsiri serai wangi di batuan Candi Borobudur Magelang, Kamis (8/4/2021). Dalam kesempatan ini pula Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati SS MA secara simbolis menyerahkan naskah paten dan pengalihan hak kekayaan intelektual dari inventor kepada negara, yang diterima Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI.

Dirjen Kebudayaan kepada wartawan diantaranya mengatakan minyak atsiri serai wangi dipergunakan untuk menghilangkan atau menangkal lumut dan organisme lainnya jamur, seperti lumut maupun lainnya yang selalu menjadi masalah laten di bangunan Candi Borobudur Magelang.

Dikatakan, penyemprotan menggunakan minyak atsiri tersebut diantaranya untuk pelestarian, melindungi bangunan candi dari lumut yang memang banyak tumbuh di bangunan Candi Borobudur. Dengan cairan ini, lanjutnya, berhasil dihilangkan lumut dan keraknya tersebut.

Menurut Dirjen Kebudayaan, ini merupakan salah satu inovasi penting dari BKB, yang selama beberapa tahun melakukan proses riset mengembangkan teknologi ini, dan sekarang ini sudah cukup mantap. Minyak ini sudah diuji di batu lepas, dan sekarang bisa diaplikasikan di batu Candi Borobudur.

Dibandingkan dengan penggunaan zat kimia, keunggulan minyak atsiri serai wangi ini merupakan organik. Dengan penggunaan bahan yang sifatnya organik tersebut jauh lebih aman, ramah lingkungan dan aromanya yang wangi. Sedang penggunaan zat kimia resiko terpapar pada macam-macam juga tinggi. “Jadi, keuntungan yang pasti itu,” kata Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI yang didampingi Kepala BKB dan tim dari BKB maupun lainnya.

Dari segi harga, juga sangat hemat. Serai wangi tumbuhnya di tengah masyarakat. Kalau memang harus mengeluarkan biaya, yang merasakan juga masyarakat. Ini termasuk merupakan investasi yang pas. Dengan menanam serai wangi ini masyarakat secara tidak langsung dapat menghasilkan minyak atsiri, dan pengolahannya pun dilakukan masyarakat. “Ini saya memandangnya sebagai ekosistem perlindungan cagar budaya yang sangat efektif,” kata Dirjen Kebudayaan.

BERITA REKOMENDASI