Diserbu Hama, Panen Cabe Peserta SLI Masih Untung

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Meski banyak diserbu hama tanaman, namun hasil budidaya cabai yang dilakukan peserta Sekolah Lapang Iklim operasional di Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung masih membukukan keuntungan.

Koordinator BMKG Jateng Tuban Wiyoso mengatakan panen cabai pada SLI operasional di Kalimanggis berada di luar musim, sehingga harga cabai tinggi. Resikonya memang biaya perawatan meningkat karena banyak serbuan hama tetapi jika dikonversi masih membukukan keuntungan.

“Harga cabai tinggi, Rp 27 ribu perkilogram. Produksi panen juga mencapai 0,4 sampai 0,7 kilogram per pohon, sehingga sangat menguntungkan,” kata Tuban Wiyoso, pada penutupan SLI Operasional, Kamis (05/11/2020).

Dia mengatakan pada SLI tersebut, ditanam pada puncak kemarau, di saat petani lain panen dan panen dimasa pancaroba, yakni ketika petani lain sedang menanam. “Peserta mendapat pelatihan bagaimana strategi bertanam dan mengatasi berbagai persoalan dari dampak iklim pada tanaman,” kata dia.

Dia mengatakan penanaman cabai di luar musim ini juga lebih hemat biaya produksi, dengan hemat pakai pestisida dan pupuk, sementara hasil meningkat berkat penguasaan ilmu klimatologi.

Seorang peserta Sumarah mengatakan dari SLI menjadi tahu bagaimana memilih komoditas, menentukan waktu bertanam, bagaimana penanganan tanaman, menggunakan pupuk dan hama serta mensiasati iklim. “Hasil produksi sangat bagus, kami menjadi tahu bagaimana menghadapi iklim,” kata dia.

Dia mengatakan keuntungan dari budidaya cabai di luar musim di SLI tersebut mencapai Rp 8 juta per seperempat hektare selama bertanam. Kapala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan SLI dibilang berhasil jika petani sudah dapat mandiri menyusun perencanaan bertanam komoditas dan dengan hasil meningkatkan kesejahteraan.

“Jika petani telah, ini berarti SLI berhasil. Untuk di Kaloran BMKG masih akan mendampingi dalam beberapa musim kedepan,” kata dia.

Dia mengatakan Indonesia saat ini mengalami La Nina dengan peningkatan curah hujan rata-rata 20 persen seperti yang terjadi di Jawa Tengah. Maka itu pada petani untuk dapat memperhatikan dan mewaspadainya sehingga masyarakat dapat panen optimal dan mendapat keuntungan. (Osy)

BERITA REKOMENDASI