Embung di Kebumen Belum Berfungsi Optimal

Editor: Ivan Aditya

KEBUMEN KRJOGJA.com – Berlangsungnya kemarau panjang yang berlanjut dengan kondisi penghujan yang belum optimal di tahun 2019 ini, sangat berpengaruh terhadap kondisi embung-embung di Kebumen.

"Dampaknya, kondisi embung di kawasan pegunungan Kebumen tak bisa berfungsi optimal. Bahkan, di September 2019 lalu embung-embung itu mengering, tak ada airnya sama sekali," ungkap Kasi Air Baku Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kebumen, Fajar Rahmanto ST di ruang kerjanya, Selasa (17/12/2019).

Ada 12 embung yang berada di kawasan pegunungan Kecamatan Sadang, Karangsambung, Karanggayam, Ayah dan Sruweng Kebumen yang dibangun sejak tahun 2010 hingga 2018 lalu. Sengaja dibangun untuk menampung air hujan yang akan digunakan menyirami kebun buah di musim kemarau.

"Namun fungsi itu tak bisa berlangsung optimal di tahun 2019 ini akibat panjangnya kemarau. Bahkan, Embung Wonosari, Cangkring dan Seboro Kecamatan Sadang pada September 2019 airnya sudah habis," ujar Fajar.

Air ketiga embung tersebut memang sudah mulai difungsikan untuk menyirami perkebunan durian dan kelengkeng di sekitarnya sejak Maret hingga Agustus 2019. Mengingat, sejak Maret 2019 curah hujan di kawasan pegunungan Kebumen sudah minim.

"Setelah airnya digunakan menyirami perkebunan selama 6 bulan, sejak Maret sampai Agustus 2019, di bulan September 2019 ketiga embung itu sudah kering tak ada airnya. Bahkan, hingga 17 Desember 2019 belum terisi penuh karena curah hujan pada November dan Desember 2019 masih minim," beber Fajar.

Menurut Fajar, dampak dari kondisi ketiga embung tersebut produksi buah durian dan kelengkeng di tiga desa itu tak sebagus tahun-tahun lalu. Adapun kondisi Embung Seling di Desa Seling Karangsambung Kebumen yang selesai dibangun tahun 2018, hingga Desember 2019 belum bisa berfungsi karena stok airnya masih minim.

Akibatnya, petani buah seling belum memindahkan bibit durian dari polibag ke lahan perkebunan. "Stok air embung memang tergantung curah hujan. Karena itu, kami tak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasinya," jelas Fajar. (Dwi)

BERITA REKOMENDASI