Gagas Pentas Virtual Demi Hidupi Seniman Wayang

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Dwi Puspita Ningrum, dalang perempuan asal Desa Kemranggen, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, menggagas pementasan wayang kulit virtual demi menghidupi seniman yang selama ini menjadi mitranya. Ide itu muncul melihat kesulitan ekonomi yang dialami seniman yang kehilangan job pentas selama masa pandemi.

Selama lebih dari empat bulan seniman wayang di Purworejo seperti kehilangan pekerjaan. Jadwal pentas yang sudah tersusun, batal terlaksana akibat pandemi. “Situasi sekarang menjadi keprihatinan bersama. Sangat tidak mudah untuk dihadapi, tapi seiring berjalannya waktu, kita harus bisa berinovasi agar seniman tetap punya penghasilan, tetapi protokol kesehatan selalu terjaga,” ucapnya kepada KRJOGJA.com, Rabu (12/08/2020).

Dwi Puspita mengawali pentas dengan penggalangan donasi. Ia menghubungi sejumlah relasi dan mengajukan proposal agar mereka bisa membantu mendukung pentas. “Saya tidak mengambil sedikitpun, tidak ada honor dalang karena sudah diniatkan jika donasi untuk teman-teman seniman. Semua untuk membiayai sewa alat, bayar upah penabuh gamelan dan sinden, dengan nilai sesuai apa yang mereka terima saat pentas pada umumnya,” tuturnya.

Menurutnya, penggalangan dana berlangsung kurang lebih satu bulan dan berhasil terkumpul donasi Rp 11,9 juta. Selain berbentuk uang, sejumlah donatur juga menyumbang dalam bentuk aneka makanan untuk konsumsi saat pentas.

Dwi Puspita kemudian menggelar pentas wayang seperti pada umumnya. Sebanyak 15 penabuh gamelan dan kru, empat sinden, empat kru tata suara, dan dua kru live streaming dilibatkan dalam pementasan di Sanggar Puspita Laras Desa Kemranggen itu.

Namun pementasan tetap menerapkan protokol kesehatan. Penabuh gamelan dan sinden diatur jaraknya, memakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan tidak dalam keadan sakit saat pentas. Selain itu, penyelenggara tidak mengundang orang untuk menonton. “Sebagai pertanggungjawaban kepada donatur, pentas ditayangkan secara live streaming di channel Youtube Salinda797, tidak ada penonton yang datang. Pentas kemarin melakonkan Gathutkaca Kusuma Yudha,” ungkapnya.

Dikatakan, pentas menghabiskan biaya Rp 8,7 juta untuk sewa alat dan upah seniman. Tersisa Rp 3,1 juta, dan rencananya untuk tabungan pentas berikutnya. “Atas hasil kemarin, kami sangat berterima kasih atas peran publik dalam membantu seniman Purworejo. Selanjutnya, kami akan menggalang dana agar bisa kembali pentas, tapi untuk jadwalnya masih kami bahas,” ujarnya.

Pengrawit Sanggar Puspita Laras Satino mengaku jika pementasaan virtual itu merupakan pentas pertamanya sejak pandemi berlangsung. Pementasan, lanjutnya, menjadi barang langka mengingat adanya potensi penularan virus jika dilakukan dengan mengundang kerumunan.

Selama tidak ada pentas, Satino bekerja sebagai buruh serabutan di desanya. “Kemarin ada pentas virtual, lumayan ada hasil yang bisa dibawa pulang untuk tambahan uang dapur istri saya,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI