Gelar Saparan, Warga Podosoko Doa Bersama Diatas Bendungan

Editor: KRjogja/Gus

MAGELANG (KRJogja.com) – Kegiatan saparan atau merti desa dilaksanakan di Desa Podosoko Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang, Sabtu (12/11/2016). Ritual atau doa bersama tidak dilaksanakan di kantor desa, komplek pemakaman maupun lainnya, tetapi di atas dua bangunan bendungan sungai yang berbeda. Masyarakat Dusun Gledeg melaksanakannya di atas bangunan bendungan Ngipik yang ada di Desa Tegalsari, sedang masyarakat Dusun Pakisan dan Gupitan di atas bendungan Klepu.

 

Sebelum melakukan doa bersama dan ritual di lokasi masing-masing, masyarakat terlebih dahulu berkumpul di lapangan Desa Podosoko. Di lokasi ini Kepala Desa Podosoko Warjana mengatakan kalau kegiatan saparan di Desa Podosoko akan dijadikan agenda tahunan untuk menarik wisatawan datang ke Desa Podosoko. Kalau tahun ini hanya dilaksanakan 1 hari, tidak menutup kemungkinan tahun-tahun mendatang bisa beberapa hari. "Warga pun dapat menggelar berbagai produk khas Podosoko, termasuk kesenian tradisionalnya," katanya.

Subur, salah satu tokoh masyarakat Desa Podosoko, dan Ketua BPD Podosoko Wardoyo kepada KRJogja.com swecara terpisah mengatakan 90 persen masyarakat Dusun Gledeg hidup dari bertani. Untuk mengairi areal pertanian seluas 40-an hektar, aliran air dari bendungan Ngipik menjadi andalan. "Baik musim kemarau maupun musim penghujan, sungai ini tidak pernah kering," Wardoyo. Itulah sebabnya ritual dan doa bersama dilaksanakan di atas bendungan Ngipik ini.

Masalah hama tikus juga menjadi masalah pokok di wilayah ini, mengingat berbagai upaya pemberantasan sudah dilakukan, tetapi tetap masih banyak hama tikusnya. "Bahkan selama 3 tahun terakhir ini hasil panenan selalu gagal," kata Subur. Karena itu dalam ritual dan doa bersama saparan di bendungan Ngipik, yang dipimpin Slamet Kartoraharjo (Kaum Dusun Gledeg), juga diharapkan seluruh hama pertanian yang ada dapat dihilangkan dari areal pertanian mereka. (Tha)

BERITA REKOMENDASI