Gubuk Reyot Kakek Joyo Ketangi Akhirnya Dibangun

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Gubuk reyot yang selama puluhan tahun dihuni Joyo Mulyo (80), kakek warga RT 01 RW 02 Desa Ketangi Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo, akhirnya dibangun. Indonesian Offroad Federation (IOF) Purworejo menggandeng Kodim 0708 Purworejo dan lembaga sosial masyarakat, gotong royong memperbaiki bangunan berukuran 4 x 3 meter itu.

Ketua Dewan Pengawas IOF M Hardjanto mengatakan, aksi sosial merupakan bentuk kegiatan rutin komunitasnya. “Tidak hanya IOF sendiri, tapi juga bersinergi dengan organisasi kemasyarakatan lain dan pemerintah,” ungkapnya disela peletakan batu pertama bedah rumah Joyo Mulyo, Senin (25/01/2021).

Menurutnya, aktivitas sosial organisasinya akn terus dipupuk dan dikembangkan. Dalam setahun terakhir, IOF bersama lembaga lain telah memperbaiki sedikitnya empat rumah milik warga tidak mampu di Purworejo.
Hardjanto menekankan kepada setiap lembaga di Purworejo untuk terus melakukan kegiatan sosial. “Mari berlomba-lomba, tapi dalam kebaikan,” tegasnya.

Komandan Kodim 0708 Purworejo Letkol INF Lukman Hakim mengapresiasi fakta semakin banyaknya elemen masyarakat yang peduli dengan permasalahan sosial di daerahnya. “Untuk di Ketangi ini, Mbah Joyo yang ‘ketiban sampur’, dan bantuan tidak hanya materi tapi tenaga serta pikiran, semua dicurahkan,” tuturnya.

Kodim berencana menggandeng berbagai komunitas untuk melaksanakan berbagai aksi sosial di Kabupaten Purworejo. Dandim meyakini, manfaat kegiatan itu akan sangat dirasakan warga penerima dan masyarakat di sekitarnya.

Sebagai lembaga pembinaan teritorial, lanjutnya, kodim dihadapkan dengan berbagai persoalan sosial masyarakat. “Kita ini tetap menjadi garda terdepan dalam menghadapi kesulitan itu. Sebagai pejabat teritorial, saya harus bisa merasakan apa yang sedang dihadapi masyarakat,” ucapnya.

Selain Kodim 0708 Purworejo dan IOF, komunitas Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), komunitas otomotif dan warga Bagelen, berkontribusi membangun rumah Joyo Mulyo. Mereka iuran untuk membeli berbagai bahan bangunan dan mengerahkan anggota untuk kerja bakti membangun rumah itu.

Sementara itu, adik ipar Joyo Mulyo, Saiman mengatakan, kakaknya sudah puluhan tahun tinggal di gubuk reyot di atas tanah warisan milik kakek renta itu. Joyo tinggal di tempat itu setelah mengalami gangguan kejiwaan.

“Dulu Mbah Joyo adalah tentara angkatan laut, markasnya di Surabaya. Namun karena ada persoalan yang sangat pelik, akhirnya jiwanya tergoncang dan ia keluar dari dinas tentara,” terangnya.

Joyo kemudian tinggal menyendiri dan tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Selama tinggal di gubuk, kerabat mengurus kebutuhan makan harian Joyo. “Ada kerabat yang mengantar makan tiap hari,” katanya.

Sementara itu, Kades Ketangi Hartono menambahkan, Joyo sebenarnya bukan berasal dari keluarga miskin. Namun, gangguan kesehatan menyebabkan kakek yang tidak berkeluarga itu tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan. Hanya satu dua kerabat yang dapat berkomunikasi dengan Joyo.

Saat masih sehat, lanjutnya, Joyo pernah membuat keranjang dan menjadi pemecah batu kali. “Untung lingkungan peduli dan mau menerima apapun kondisi Mbah Joyo. Warga bahkan kerap menawarkan rehab rumah, tapi selalu ditolak. Sekarang akhirnya mau mungkin karena banyak orang yang mendorong,” terangnya.

Pihak desa, lanjutnya, mengapresiasi kepedulian masyarakat Purworejo terhadai Mbah Joyo. “Tentu kami sangat berterima kasih karena selain desa yang peduli, ada banyak komunitas yang mengarahkan bantuan untuk Mbah Joyo,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI