Hari Purbakala Nasional, Anak TK di Purworejo Antusias Ikut Reresik Watu Purba

Editor: Agus Sigit

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Museum Tosan Aji Purworejo menggelar Reresik Watu Purba untuk memperingati Hari Purbakala Nasional, di kompleks museum, Selasa (14/6). Acara itu semakin meriah dengan ikutnya puluhan anak TK pengunjung Museum Tosan Aji membersihkan benda purba koleksi museum itu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Purworejo Dyah Woro Setyaningsih mengatakan, acara tersebut digelar sebagai bentuk sosialisasi keberadaan museum kepada masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa koleksi Museum Tosan Aji Purworejo sangat beragam dan tidak kalah dengan museum-museum besar lain di Indonesia,” tuturnya kepada KRJOGJA.com, disela kegiatan.
Kegiatan membersihkan koleksi museum itu dikemas dalam rangkaian aksi teatrikal. Enam belas pegawai museum berjalan membawa panjang ilang

atau anyaman janur kuning berbentuk mangkuk dan membawa kain putih. Panjang ilang

berisi bunga mawar yang ditaburkan di sekitar benda koleksi agar harum.

Sedangkan kain putih digunakan untuk membersihkan koleksi benda purbakala museum. “Benda yang dibersihkan hanya koleksi berbentuk batu, ada menhir, lingga, yoni, dan beberapa arca,” ungkapnya.
Belasan pegawai itu berjalan pelan dari gedung pusat museum menuju ruang penyimpanan koleksi batu bersejarah.
“Tidak ada unsur aneh-aneh di sini, apa yang lakukan hanya sebagai penanda. Misalnya bunga mawar, sebagai lambang keharuman, harapannya masyarakat bisa selalu ingat akan akar budayanya, ingat bahwa Purworejo memiliki budaya yang tinggi di masa lalu,” terangnya.
Secara kebetulan, katanya, museum menerima kunjungan dari TK Purworejo. Mereka pun dilibatkan dalam kegiatan dengan ikut membantu petugas membersihkan beberapa benda koleksi museum. “Tidak kami duga, tapi acara jadi semakin meriah,” ucapnya.
Museum Tosan Aji Purworejo memiliki lebih dari 1.800 benda koleksi. Sebanyak 175 koleksi berbentuk batu bersejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum, masa kerajaan Hindu dan Budha.
Sebenarnya, katanya, masih banyak benda bersejarah dalam bentuk batu yang ada di masyarakat. “Kalau peninggalan di masyarakat masih banyak, tapi mereka rawat sendiri dan tidak diserahkan kepada museum. Benda-benda itu tetap kami data,” paparnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI