Isu Temuan Bom di Brenggong Tidak Benar

PURWOREJO (KRjogja.com) – Keluarga IP, terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri resah dengan isu terdapatnya bom rakitan di rumah tersangka di Dusun Tegalsari Desa Brenggong Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Kabar yang berkembang di media sosial itu diduga berembus setelah dilibatkannya tim penjinakan bahan peledak (jihandak) yang turut melakukan pengamanan di lokasi penangkapan IP, Kamis (15/12/2016).

Keluarga IP di Brenggong mengaku dihubungi beberapa kerabat diluar kota terkait adanya temuan bom. "Anak saya yang di Semarang menghubungi dan bilang katanya ada bom di rumah nenek, dia khawatir dan kami ikut was-was," kata Suhartini, keluarga IP, kepada KRjogja.com, Jumat (16/12/2016).

Baca: IP terkait jaringan teroris
 
Menurutnya, keluarga tidak mengetahui ada benda berbahaya itu. Sepengetahuan keluarga, katanya, IP hanya menyimpan buku-buku dan pakaian di rumah itu.

Adanya isu dan peristiwa penangkapan tersebut juga membuat nenek IP Warsi, ketakutan. Nenek itu terpaksa mengungsi ke rumah salah satu anaknya di Solo. "Nenek takut, dia bingung dan kaget, agar tenang nenek minta pindah dulu ke Solo," ujarnya.

Kerabat lain, Darsih menambahkan, keluarga juga khawatir akan munculnya stigma buruk dari masyarakat terkait peristiwa penangkapan tersebut. "Orang tahunya kami keluarga teroris, padahal kami ini tidak ada yang tahu aktivitas IP sebelum pulang. Kami menyambut dia dengan baik karena IP belasan tahun tidak pernah pulang," ungkapnya.

Kepala Desa Brenggong Muhtarom menuturkan, tidak ada prasangka buruk dari masyarakat terhadap keluarga IP. Kades meminta kepada warga untuk tidak berpendapat aneh, mengingat status IP masih tersangka dan selama ini keluarganya juga berperilaku baik di masyarakat. "Soal penangkapan biarlah jadi tanggung jawab pribadi IP di hadapan hukum," tegasnya.

Terpisah, Kapolres Purworejo AKBP Satrio Wibowo SIK mengemukakan, polisi tidak menemukan adanya benda sejenis bom dari rumah IP dan bangunan lain yang disterilkan tim Jihandak. Polisi mengambil dokumen, buku-buku dan beberapa ponsel rusak sebagai barang bukti. "Soal keterlibatan jihandak sebagai antisipasi saja, ternyata memang tidak ditemukan benda berbahaya," katanya.(Jas)

 

BERITA REKOMENDASI