Jambanisasi TMMD Reguler Kodim Wonosobo Angkat Taraf Kesehatan Warga Lereng Sindoro

Editor: Ivan Aditya

Ada kebiasaan kurang baik dilakukan warga salah satu desa di lereng Gunung Sindoro, Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng). Warga di desa ini sering buang air besar (BAB) di kolam dan membiarkan kotoran manusia itu dimakan oleh ikan. Masyarakat beranggapan budidaya dengan memberikan pakan ikan berupa kotoran manusia akan lebih ekonomis. Kodim 0707 Wonosobo terpanggil untuk mengubah perilaku warga yang tak sehat itu. Melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-100, para prajurit membuat puluhan jamban bagi masyarakat agar warga meninggalkan kebiasaan itu.

Desa Pagerejo yang masuk Kecamatan Kertek termasuk wilayah pra sejahtera di Kabupaten Wonosobo, Jateng. Dari total sekitar 6.000 jiwa penduduk, 727 warga diantaranya masih tergolong miskin dengan mata pencaharian masyarakat kebanyakan sebagai pembudidaya ikan dan petani sayur.

Berada di daerah pelosok sekitar 5 kilometer dari puncak Gunung Sindoro membuat akses informasi warga di desa ini cukup terbatas. Tak heran jika kemudian tingkat pendidikan warga Pagerejo juga rendah dibanding daerah lain di Wonosobo.

Kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun-temurun dari para orang tua dahulu masih berlaku di desa ini. Meski tak selamanya baik, namun perilaku tersebut dianggap benar dan terus dilakukan hingga kini.

Salah satunya yakni kebiasaan warga Pagerejo yang masih sering buang hajat di kolam ikan peliharaan. Perilaku tersebut telah berlangsung lama dan sampai sekarang fenomena itu masih bisa ditemui di desa ini.

Warga beranggapan, kotoran manusia masih memiliki nilai guna dengan dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Sistem budidaya ikan dengan diberi pakan berupa tinja yang merupakan kotoran manusia diyakini warga dapat membuat ikan lekas besar sehingga bisa cepat dijual.

“Dari sisi ekonomi memang hal itu lebih menguntungkan, namun dari kesehatan jelas akan berdampak buruk bagi lingkungan maupun orang lain yang mengkonsumsi ikan dengan pakan kotoran manusia tersebut. Dari segi sosial, perilaku demikian itu juga tidak dibenarkan karena akan ditiru masyarakat lainnya,” ungkap Kepala Desa Pagerejo, Udi Wahayu.

Udi Wahayu menjelaskan, selain memang persoalan perilaku yang sudah berlangsung turun-temurun itu, banyaknya warga yang belum memiliki jamban sehat juga menjadi salah satu faktor mengapa fenomena sosial tersebut terjadi di desa yang terdiri dari enam dusun tersebut. Dari catatan kantor desa setempat, setidaknya masih ada 800 kepala keluarga (KK) di Pagerejo hidup tanpa memiliki jamban bahkan kamar mandi.

Bagi yang telah memiliki jamban, tidak jarang mereka belum menerapkan pola jamban sehat dengan menggunakan sistem septic tank. Jadi tinja hasil pembuangan dari jamban tidak ditampung ke dalam septic tank, melainkan disalurkan dan dibuang ke kolam.

Bahkan tak sedikit pula warga yang masih membuat jamban seadanya tepat di atas kolam. Jadi seseorang yang buang hajat di jamban tersebut maka tinjanya akan jatuh tepat di kolam dan langsung dimakan ikan.

Pihak desa sebenarnya beberapa kali telah memberikan penyuluhan serta pemahaman akan dampak buruk dari perilaku tersebut. Dinas Kesehatan Wonosobo juga tak ketinggalan turun tangan mengajak warga untuk hidup sehat, namun warga Pagerejo tetap masih belum bisa meninggalkan kebiasaan itu.

“Sebelumnya memang program jambanisasi sempat digulirkan pemerintah daerah di desa ini, namun saking banyaknya penduduk yang tak memiliki jamban membuat tidak semua warga dapat menikmati program itu. Jadinya sampai sekarang masih banyak warga buang hajat di kolam,” ujarnya.

TMMD Hadir Membawa Perubahan

Kebiasaan buruk warga Pagerejo perlahan mulai ditinggalkan saat prajurit Kodim 0707 Wonosobo hadir di desa tersebut. Malalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-100, jajaran Kodim 0707 Wonosobo terpanggil untuk meningkatkan taraf kesehatan warga Pagerejo dan melakukan pembangunan desa bersama masyarakat.

Komandan Kodim (Dandim) 0707 Wonosobo, Letkol (Czi) Dwi Hariyono mengungkapkan, informasi perihal adanya kebiasaan buruk warga di Pagerejo memang telah diterimanya melalui laporan para Bintara Pembina Desa (Babinsa) maupun pemerintah desa setempat. Laporan tersebut kemudian dibawa dalam rapat koordinasi mulai dari tingkat Korem 072 Pamungkas, Kodam IV Diponegoro sampai Mabes TNI AD hingga akhirnya ditetapkanlah Desa Pagerejo sebagai lokasi sasaran dilaksanakannya TMMD Reguler ke-100 untuk wilayah Kodim 0707 Wonosobo.

“Dalam TMMD Reguler ke-100 inilah menjadi kesempatan Kodim 0707 Wonosobo untuk melakukan pembangunan bersama masyarakat Pagerejo dan mengubah kebiasaan buruk itu. Berbagai program fisik maupun non fisik telah disiapkan untuk membawa masyarakat kepada perubahan yang lebih baik,” tegas Dwi Hariyono yang juga selaku Komandan Satgas (Dansatgas) TMMD Reguler ke-100 Kodim 0707 Wonosobo.

Para prajurit membuat jamban sehat dengan sistem septic tank

Dari hasil identivikasi permasalahan yang ada Desa Pagerejo akhirnya Kodim 0707 Wonosobo menjadikan jambanisasi sebagai salah satu program pembangunan fisik yang akan dilakukan dalam TMMD ini. Dalam waktu sekitar satu bulan jajaran Kodim 0707 Wonosobo memasang target untuk mampu membangun 20 jamban sehat dan kamar mandi bagi warga.

Dwi Hariyono menegaskan, warga yang berhak menerima dalam program jambanisasi tersebut adalah mereka yang selama ini tak memiliki jamban. Pembuatan jamban bagi warga dilakukan para prajurit secara cuma-cuma alias gratis dan dikerjakan bergotong-royong bersama masyarakat Pagerejo.

Segala aspek untuk membuat jamban sehat telah dipersiapkan matang oleh prajurit. Jarak antara jamban ke septic tank maupun jarak dengan sumur telah dihitung secara akurat sehingga nantinya keberadaan instalasi ini tak mencemari air bersih di sekitarnya.

Dengan kedalaman sekitar 5 meter dan diameter kurang lebih 2 meter, lubang septic tank dibuat. Lubang pembuangan ini dipastikan berjarak minimal 5 meter dari sumur atau sumber mata air lainnya dan berjarak setidaknya 2 meter dari jamban.

Septic tank dilengkapi saluran udara agar sirkulasi di dalam lubang tersebut dapat berjalan dengan baik. Bak kontrol dalam tanah ditambahkan untuk menghindari terjadinya sumbatan kotoran nantinya. Sedangkan untuk jamban dipasanglah kloset jongkok serta disiapkan pula ketersediaan air bersih yang memadai.

“Dalam program jambanisasi ini para prajurit juga melakukan aksi imbangan berupa penyuluhan tentang pola hidup sehat kepada masyarakat. Pelatihan budidaya dan pembuatan pakan ikan juga diberikan agar masyarakat meninggalkan kebiasaan sebelumnya yang menjadikan kotoran manusia sebagai pakan,” jelasnya.

Dwi Hariyono berharap apa yang dilakukan para parajurit ini dapat menggugah kesadaran warga Pagerejo untuk menuju pola hidup sehat. Dengan ini maka tujuan pemerintah guna mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.

Bersama TNI Membangun Desa

Program jambanisasi ini menjadi satu diantara beberapa kegiatan pembangunan fisik yang dilakukan dalam TMMD Reguler ke-100 Kodim 0707 Wonosobo yang berlangsung mulai 27 September hingga 26 Oktober 2017. Selain pembuatan 20 jamban dan kamar mandi, para prajurit juga berhasil menyelesaikan pembangunan jalur evakuasi dari bahaya erupsi Gunung Sindoro sepanjang 757 meter, pembuatan gorong-gorong di 4 lokasi, pembuatan talud untuk mengantisipasi bencana tanah longsor, pembangunan 2 pos kamling, 2 mushola serta rehab 7 unit rumah warga.

Untuk sasaran non fisik telah dilaksanakan penyuluhan mulai dari bela negara, kamtibmas hingga penuntasan wajib belajar pendidikan dasar. Berbagai pelatihan juga diberikan seperti budidaya ikan, pembuatan pakan, pengolahan sampah, pemanfaatan pekarangan dan sanitasi lingkungan. Jajaran Kodim 0707 Wonosobo juga menggandeng dinas kabupaten setempat untuk mengadakan pelayanan kepengurusan catatan sipil, perpustakaan keliling, pelayanan KB serta penyerahan bantuan kursi bagi kaum difabel.

Proses pembangunan dilakukan bergotong-royong bersama warga

Dwi Hariyono menegaskan, tujuan utama dari TMMD yang dahulu bernama ABRI Masuk Desa (AMD) ini yakni terciptanya kemanunggalan antara TNI dan rakyat. Selain itu TMMD juga dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah dalam percepatan pembangunan daerah melalui desa.

“Semua dikerjakan secara bergotong-royong bersama masyarakat, sehingga kemanunggalan antara TNI dan rakyat benar-benar tercipta. Bersama prajurit, rakyat telah melaksanakan amanah pemerintah untuk melakukan pembangunan di wilayahnya masing-masing,” terangnya.

Untuk melaksanakan program-program ini TNI tidak sendiri. Kepolisian, pemerintah daerah,  dinas terkait, hingga masyarakat diajak turut terlibat mensukseskan program ini. Sehingga TMMD bukan hanya menjadi kegiatan rutin TNI saja, namun juga semua unsur lapisan masyarakat.

Dwi Hariyono berharap hasil yang telah dicapai dalam TMMD Reguler ke-100 ini dapat dijaga dan dimanfaatkan untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Semangat gotong-royong serta persatuan yang selama 30 hari telah terjalin antara TNI bersama rakyat dapat senantiasa diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Ivan Aditya)

BERITA REKOMENDASI