Jogo Tonggo Buktikan Nilai Gotong Royong ‘masih’ Ada

MAGELANG, KRJOGJA.com – Siapa sangka, Virus Corona yang muncul pertama kali di Kota Wuhan, salah satu Propinsi di Tiongkok akhir 2019 lalu yang kemudian dikenal dengan Corona Virus Disease (Covid-19), akhirnya sampai ke Indonesia awal 2020 lalu. Tidak ada yang menduga saat itu. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, namun korban meninggal setiap hari selalu ada.

Hingga tanggal 2 November ini, tercatat pasien positif di Indonesia telah mencapai 412.784 orang. Pasien sembuh sebanyak 341.942 orang dan meninggal 13.943 orang. Sedang di Kabupaten Magelang, pasien terkonfirmasi positif mencapai 1121 orang. Rinciannya, 249 orang masih dirawat dirumah sakit dan menjalani isolasi mandiri, 844 dinyatakan sembuh dan 28 meninggal.

Sejauh ini, upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. Salah satunya melaksanakan intruksi Gubernur Jawa Tengah, melalui Program Jogo Tonggo. Program yang diapresiasi Pemerintah Pusat melalui KementrianPan-RB dengan menempatkan program ini di tiga besar sebagai program inovatif pelayanan publik dalam penanganan Covid-19 ini, terus diintensifkan hingga tingkat bawah. “Program yang mengedepankan partisipatif aktif warga berbasis kewilayahan hingga tingkat Rukun Warga (RW) ini, sangat bagus. Terbukti mampu menggerakkan warga untuk saling membantu dan tolong menolong,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Magelang, Nanda Cahyadi Pribadi.

Disampaikan Nanda, jika implementasi Jogo Tonggo telah dilakukan warga diwilayahnya. Salah satunya di Perumahan Nasional (Perumnas) Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan. Meski termasuk daerah perkotaan, dengan tingkat ekonomi warganya menengah keatas dan secara intelektual cukup baik, namun tingkat partisipasi warga untuk melaksanakan intruksi gubernur ini sangat luar biasa. Hal ini seolah menghapus stigma jika hidup didaerah perkotaan, warganya akan cenderung individual dan jarang bersosialisasi.

Tercatat sejak pandemi ini terjadi, sudah ada enam warga diwilayah itu terpapar Covid-19. Meski demikian, mereka kini sudah dinyatakan sembuh. Terakhir pada awal September kemarin, saat salah satu warga dinyatakan positif Covid-19. Saat itu, warga yang tidak mau disebut namanya ini, diharuskan melakukan isolasi mandiri (isman) karena berdasarkan hasil swabnya positif. Meski sempat kaget, karena merasa badannya sehat dan tidak menunjukkan gejala sakit, ia pun tetap melaksanakan perintah itu.

Ia kemudian menjalani isolasi mandiri dirumah orang tuanya, tak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Namun begitu, tetangga dan pemerintah desa mensuportnya agar segera sembuh. “Saat itu, kami bersama babinsa dan babinkamtibmas serta bidan desa, konfirmasi ke keluarga yang bersangkutan agar melaksanakan isman. Kami juga berkoordinasi dengan warga sekitar agar saling menjaga dan berkoordinasi agar tidak gaduh. Selama isman itu, kami juga memberikan paket sembako. Terbukti berkat dukungan semua pihak, yang bersangkutan cepat sembuh dan dapat beraktifitas kembali,” kata Kepala Desa Kalinegoro, Hajid Mulyono didampingi Sekretaris Desanya, Arya Putra Gari.

Yang membuat keduanya tersentuh, beberapa RW di desanya mengumpulkan aneka sayuran dan sembako untuk dibagikan ke warga yang membutuhkan terutama yang menjadi korban Covid-19. Salah satunya setiap jumat, beberapa warga yang secara ekonomi mampu, bersedah sayuran dan sembako. Caranya dengan menggantungkan sayuran dan beberapa sembako itu disuatu tempat yang ditentukan.

“Ini membuktikan jika nilai-nilai gotong royong, tolong menolong ditempat kami masih bagus. Mereka dengan rela dan tulus memberikan apa yang mereka miliki kepada tetangganya yang membutuhkan. Tak hanya itu, saat ada tetangganya dinyatakan positif Covid-19, tidak ada warga yang menjauhi. Tapi justru memberikan dukungan baik moril maupun spiritual,” pungkasnya. (Bag)

BERITA REKOMENDASI