Jokowi Minta Masyarakat Berhemat

Editor: Ivan Aditya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Presiden Joko Widodo menemui 3 ribu relawan Projo di Borobudur Kabupaten Magelang, Sabtu (21/05/2022). Jokowi secara khusus meminta seluruh relawan mengajak masyarakat berhemat di masa yang penuh ketidakpastian saat ini.

Menurut Jokowi, kondisi ketidakpastian dialami seluruh negara dunia karena dua penyebab yakni pandemi yang belum berakhir dan perang Rusia-Ukraina. Kedua hal ini membuat seluruh negara dunia termasuk Indonesia mengalami situasi tidak menentu dalam beberapa sektor penting yakni pangan dan energi.

“Pandemi hampir selesai muncul persoalan baru perang di Ukraina. Satu persoalan belum rampung muncul hal lain. Perang itu jauh dari kita tapi dampaknya semua negara mengalami. Harus saya sampaikan apa adanya, semua negara tidak mudah. Negara kita juga tidak gampang menghadapi persoalan besar ini. Pemulihan ekonomi yang kita hitung muncul tahun ini ditimpa perang Rusia-Ukraina. Tidak mudah mengelolanya, baik yang berkait anggaran negara, pertumbuhan ekonomi, kenaikan harga, tidak mudah terutama dua hal di seluruh dunia yakni energi (BBM, Gas, Listrik) kedua, pangan naik semuanya. Semua negara yang namanya gandum, naiknya lebih 30 persen. Bahkan kemarin di Amerika, susu bayi tidak ada barangnya. Sampai kehabisan barang, begitu juga bensin,” ungkap Jokowi di lapangan Balkondes Ngargogondo, Borobudur.

Pemerintah menurut Jokowi berusaha keras untuk menjaga kestabilan harga dalam negeri terutama pangan dan energi. Subsidi negara yang jumlahnya sangat besar yakni Rp 502 trilyun digelontorkan demi kepentingan rakyat kecil.

“Kita masih bertahan agar Pertalite tidak naik. Pertamax naik, tapi yang punya mobil mewah tidak apa-apa yang pakai mereka. Pertalite kita tahan betul agar harganya Rp 7.650 padahal kalau saya lihat di Jerman, bensin Rp 31 ribu, Singapura Rp 32 ribu, Thailand Rp 20.800, Amerika Rp 18.000. Kita masih Rp 7.650. Subsidi APBN besar sekali, masalahnya tahan kita sampai kapan kalau perangnya tidak rampung-rampung. Untuk mempertahankan harga Pertalite, LPG, listrik di bawah 3000 pemerintah keluar besar sekali Rp 502 trilyun. Bansos kita Rp 154 trilyun, APBN kita masih memiliki kekuatan ini tapi semua sulit diprediksi karena ketidakpastian global,” sambung Jokowi.

Di hadapan para relawan Projo dari seluruh Indonesia, Jokowi juga menyampaikan bahwa saat ini pemerintah terus berusaha menciptakan kestabilan pangan. Salah satunya beras di mana harga rata-rata di berbagai daerah mencapai Rp 10.600 per kilogram.

“Coba kita lihat negara lain, harga beras di Korea Selatan Rp 53 ribu, Filipina Rp 18 ribu. Ini harus kita syukuri. Tiga tahun ini sudah tidak impor beras sama sekali meski ada impor, namun untuk beras khusus yang dimakan orang Jepang, Korea, India. Tapi yang biasanya kita impor 1,5 juta-2 juta ton pertahun sudah tiga tahun ini kita tidak. Ini harus dipertahankan, syukur stoknya bisa kita perbesar,” tandasnya.

Tak hanya itu saja, Jokowi juga menceritakan sulitnya menstabilkan harga minyak goreng di tanah air karena pengaruh tingginya harga global. Kondisi Eropa yang menaikkan harga minyak ternyata diikuti negara lain termasuk Indonesia yang kemudian memilih ekspor daripada mencukupi kebutuhan dalam negeri.

“Minyak goreng, ini bukan persoalan mudah. Sudah sejak awal Januari naik, sama seperti harga pangan lain. Karena harga global tinggi semua negara ikut. Di Eropa naik, harga dalam negeri ketarik. Akhirnya saya stop, minyak goreng tak boleh ekspor. Ini kebijakan tak mudah. Begitu distop, harga tandan sawitnya jatuh turun, petani dan pekerja sawit ada 17 juta orang. Negara mencari keseimbangan tidak mudah. Begitu juga urusan income negara, pajak sawit, bea ekspor sawit itu gede sekali Rp 60-70 trilyun padahal APBN sangat butuh penerimaan negara. Tapi kuncinya sudah ketemu, seminggu dua minggu ini minyak goreng curah Rp 14 ribu,” tandasnya diikuti tepuk tangan para relawan.

Di akhir pidato yang sekaligus pembukaan Rakernas V Projo ini, Jokowi mengingatkan masyarakat untuk berhemat dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki. Pasalnya, kondisi ketidakpastian ini belum diketahui kapan akan berakhir.

“Kesulitan global ini tidak pasti, sampai kapan. Saya minta rakyat berhemat, menabung. Apabila ada keadaan tertentu yang tidak kita prediksi, rakyat masih punya cadangan, negara juga punya cadangan,” pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI