Kelangkaan Bawang Putih Dinilai Karena Permainan

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Ketua Komisi IV DPR RI Hasan Aminudin mengatakan kelangkaan bawang putih di Indonesia bisa disebabkan permainan importir, pedagang dan memang benar-benar kekurangan stok.

“Kelangkaan bawang putih, kalau menurut saya karena semuanya, yakni permainan dan benar-benar kekurangan stok bawang putih itu sendiri,” kata Hasan Aminudin, saat mengunjungi lahan bawang putih di Lereng Gunung Sindoro, Desa Tlahap Kecamatan Kledung Temanggung, Jumat (28/02/2020) sore.

Kunjungan itu diikuti segenap anggota Komisi IV DPR RI, Kementerian Pertanian, Importir dan perwakilan produsen pupuk. Di lokasi tersebut mereka melakukan dialog dengan petani bawang putih. Di area tersebut terdapat sekitar 80 hektare lahan pertanian bawang putih sedang di Temanggung terdapat sekitar 3000 hektare lahan putih.

Hasan mengatakan Indonesia masih akan mengimpor bawang putih. Impor dihentikan sampai mencapai swasembada bawang putih. Maka itu komisi IV mendorong semua pihak untuk dapat mencapai swasembada, dan hal itu dapat dicapai Indonesia.

Dia mengemukakan kekagetannya saat kunjungan ke Temanggung, sebab ternyata Temanggung mampu memenuhi kebutuhan konsumsi bawang putih yang dibutuhkan masyarkat seluruh Indonesia sebanyak 25 persen, padahal lahan yang ditanam baru sekitar 3000 hektare. Sementara potensi masih ada 4 kali lipat atau 12 ribu hektare.

Dia mengatakan potensi lahan bawang putih di daerah lain sangat banyak, yakni daerah yang ketinggiannya 1.000 meter diatas permukaan laut atau lebih. Sebagai contoh selain di Jawa Tengah adalah di Jawa Timur seperti di Lereng Bromo yang dapat mampu 4 kabupaten.

Dia menyampaikan perlunya singkronisasi kebijakan antara kabupaten, provinsi dan pemeintah pusat. Jika itu dilakukan persoalan petani dapat selesai. Sebagai contoh kebutuhan infrastruktur dan bibit, dapat diintervensi seperti bibit dianggarkan APBN, infrastrukturnya oleh bupati.

Pada pertemuan itu, seorang petani bawang putih, Panggung Drajat mengatakan kebutuhan petani adalah kepastian pupuk dan kesulitan terpenuhinya air di musim kemarau sehingga setahun hanya sekali tanam.

“Jika setahun bisa dua kali tanam dengan adanya rekayasa sistem perairan di lahan maka akan dapat mendorong swasembada bawang putih,” katanya.

Dikatakan permintaan dari konsumen, bawang putih lokal besarnya sama atau lebih besar dari bawang putih impor. Maka itu dibutuhkan rekayasa benih. Bawang putih yang sekarang rasanya lebih besar, dari impor tetapi bentuknya kecil sehingga sukar dikupas.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sarwo Edhy mengatakan akan membantu petani dalam merekayasa perairan dengan pembuatan embung atau bantuan peralatan untuk memompa air dibawah lahan ke lahan pertanian. ” Negara juga akan membantu benih dan pupuk, agar komoditas bawang kualitasnya meningkat, juga kualitasnya,” katanya. (Osy)

BERITA TERKAIT