Keracunan di SD Penungkulan Diduga dari Jajanan, 5 Sampel Makanan Diteliti

Editor: KRjogja/Gus

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purworejo meneliti penyebab dugaan keracunan makanan yang menimpa 14 siswa SD Penungkulan Kecamatan Gebang. Tim surveilans kesehatan membawa lima sampel sisa makanan yang dikonsumsi para korban sebelum mengeluh pusing dan mual.

Kepala Dinkes Purworejo dr Sudarmi MM mengatakan, sampel tersebut diamankan para guru SD Penungkulan. "Mereka mengambil sampel sejumlah jajanan yang diduga dikonsumsi anak-anak. Kami ambil sampel makanan yang dicurigai itu untuk diteliti di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta untuk diteliti," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Jumat (6/9).

Menurutnya, tim juga membawa alat tes cepat untuk mengecek kandungan boraks dan pewarna berbahaya pada makanan yang dijajakan di sekolah tersebut. Tim juga melakukan sosialisasi dengan sasaran guru, siswa dan pedagang di lingkungan sekolah.

Sudarmi mengimbau kepada orang tua untuk membekali anak dengan makanan dari rumah. Sekolah, lanjutnya, disarankan memfasilitasi terbentuknya kantin sehat. "Sementara untuk pedagang, silakan berjualan, namun harus perhatikan keamanan pangan, dari proses pemilihan bahan, memasak hingga ketika penjualan. Jadi tidak boleh sembarangan," tegasnya.

Sementara itu, seluruh siswa yang menunjukkan gejala keracunan sudah diperbolehkan pulang oleh Puskesmas Maron Loano, Kamis (5/9) sore. "Seluruhnya mendapat penanganan medis dengan baik. Enam siswa yang sempat diobservasi, diperbolehkan pulang pada Kamis sore," ujar Dokter Puskemas Maron, dr Bayu Utaminingtyas.

Secara umum, katanya, tidak ada gejala parah yang ditunjukkan para siswa. Adapun enam anak diobservasi karena mengalami muntah lebih dari lima kali. Tim dokter menunggu beberapa jam untuk memastikan kondisi anak betul-betul sudah pulih.

Pihak Puskesmas Maron juga telah menyerahkan lima sampel yang dicurigai menyebabkan keracunan kepada dinkes. "Untuk penyebab pastinya menunggu hasil penelitian laboratorium," tuturnya.

Terpisah, Kepala Desa Penungkulan Ahmad Suroso menambahkan, berdasar pengakuan para siswa, mereka juga membeli jajan yang sama dengan korban. Namun kondisi anak-anak tersebut tetap normal dan tidak menunjukkan gejala keracunan. "Saat anak yang sakit saya tanya, mereka rata-rata tidak sarapan. Tapi apakah karena belum sarapan atau karena jajan, saya tidak tahu, biar dokter yang menyimpulkan," paparnya.

Kendati demikian orang tua para korban akan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah. "Paling penting anak-anak kembali sehat, bisa sekolah lagi, tentunya ini jadi pelajaran kita semua untuk lebih memperhatikan soal makanan," tandasnya. (Jas)

 

BERITA REKOMENDASI